"Perhatian calon kepada kaum minoritas tidak terdengar dengan luas mungkin karena para calon menghitung angka pemilihnya tidak signifikan. Padahal sesungguhnya pemikiran itu keliru. Sebab jika sisi kesetaraan di depan hukum dilalaikan bakal calon, maka para pemilih yang minoritas kesulitan untuk menentukan pilihannya," ujar pengajar di Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Bogor, Dinalara Butar Butar, kepada
Rakyat Merdeka Online tadi malam.
Selain keliru, menurut Dinalar, pemikiran yang tidak secara khusus memperhatikan kelompok minoritas akan merugikan calon karena sekalipun jumlahnya kecil akan memberi manfaat suara.
Namun begitu, di tengah kondisi tidak seideal yang diharapkan itu, Dinar mengira pemilih minoritas akan lebih condong memberikan suaranya ke pasangan nomor urut 2, Bima Arya-Usmar Hariman (Bima-Usmar). Bima Arya, katanya, akan lebih netral memimpin Kota Bogor karena wawasannya yang luas dan memiliki struktur berfikir yang nasionalis dan demokratis. Bima sangat mudah care kepada kaum minoritas dan menurutnya, orang yang demokratis seperti Bima lebih mudah menyerap aspirasi.
"Akan sangat sulit orang seperti dia (Bima) untuk membeda-bedakan kaum mayoritas dengan minoritas," jelas pengajar Ilmu Hukum Perdata ini.
Menurutnya, Bima Arya adalah antitese dari Walikota Bogor dua periode, Diani Budiarto. Dia yakin politisi PAN itu akan merangkul kaum minoritas agar tidak menimbulkan efek negatif bila memimpin nanti seperti yang dialami Diani.
"Di samping Bima adalah orang muda, dia juga seorang budayawan yang sangat mencintai budaya bahkan pernah mengadakan festival budaya yang melibatkan kaum minoritas," ulas warga Bogor itu.
[dem]
BERITA TERKAIT: