"Sebab belum tentu juga suara Demokrat di parlemen memenuhi sayarat untuk bisa mengajukan capres," kata kata pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Prof Budiatna, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 5/8).
Bila itu terjadi, maka mau tidak mau Demokrat harus mencari dukungan partai lain. Bila mendapat dukungan partai lain susah, bukan tak mustahil Demokrat harus puas dengan mengusung cawapres, yang dipasangkan dengan capres dari partai lain.
"Paling pahit lagi, Demokrat harus menerima bila pemenang Konvensi tidak bisa diajukan jadi capres atau cawapres, dan tidak menjadi apa-apa selain tercatat sebagai pemenang konvensi saja," ungkap Budiatna.
Budiatna memprediksi, di masa-masa mendatang, suara Demokrat akan semakin terpuruk lagi. Hal ini menyusul dengan penahanan Andi Mallarangeng sebagaimana telah disampaikan pimpinan KPK, juga terkait dengan laporan BPK soal Hambalang.
"Belum lagi kasus-kasus lain, misalnya saja soal Sengman yang kemudian dipersepsikan publik ada kaitan dengan Cikeas. Suara Demokrat akan anjlok," demikian Budiatna.
[ysa]
BERITA TERKAIT: