"Dari jumlah itu bukti yang berhasil kami kumpulkan sekitar 2.400. Itu baru di satu daerah. Masih banyak lagi kecurangan di daerah lain di Jawa Timur dan sengaja masih kami rahasiakan. Artinya Pilgub 2013 ini memang diwarnai praktik kecurangan. Belum lagi soal money politic," terang Ahmad Millah Hasan, Jurubicara pasangan Berkah, kepada
Rakyata Merdeka Online, Sabtu (31/8).
Agar temuan kecurangan terakomodir dengan baik, lanjut Millah, mulai hari ini tim Berkah membuka Posko Pengaduan. Tempatnya di posko pemenangan Berkah sekaligus kediaman Khofifah di Jalan Jemursari VIII No 24, Surabaya.
"Lewat posko ini, masyarakat yang menemukan kecurangan bisa melaporkan dan menunjukkan bukti-bukti. Ini semua dilakukan agar Pilgub Jatim berjalan jujur dan adil, tidak di-setting untuk memenangkan pasangan tertentu atau demi kepentingan tertentu," jelas pria asal Tunggul, Paciran, Lamongan itu.
Lagi pula, temuan kecurangan itu tak hanya satu item. Misalnya surat undangan kepada masyarakat yang disertai mie instan dengan embel-embel perintah agar mencoblos calon tertentu. Belum lagi di Madura. Di Pulau Garam ada tempat pemungutan suara (TPS) kosong sehingga masyarakat yang hendak mencoblos kebingungan. Selain di Madura, ada tiga desa di salah satu kabupaten yang tidak melaksanakan pemungutan suara sehingga ribuan masyarakat tidak mencoblos. Semua ada buktinya.
Selain itu, ada kecurangan yang dilakukan secara terstruktur. "Di beberapa desa ada seluruh anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) tidak dilantik karena waktunya mepet. Lho, ini kan bentuk kecurangan terstruktur," katanya.Â
Tak hanya membuka Posko pengaduan, kata Millah, tim Berkah juga terus mengumpulkan laporan pelanggaran dari sukarelawan di seluruh daerah. "Kami juga menerima laporan tentang dugaan money politic. Ada kepala desa yang membagikan sarung dan beras. Jadi posko pengaduan ini menjadi sangat penting karena kecurangan di Pilgub Jatim 2013 semakin menguat," tegasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: