"Dulu memang Jumhur cukup dikenal luas di kalangan aktivis buruh. Namun setelah diberi kue kekuasaan sebagai kepala BNP2TKI, Jumhur seakan tercerabut dari akarnya. Jumhur menjadi elit yang sulit dijangkau oleh para buruh," demikian disampaikan Mora Harahap, Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam pesan singkat kepada redaksi sesaat lalu (Selasa, 6/8).
Selain itu, persoalan buruh di luar negeri pun masih tidak bisa dituntaskan oleh Jumhur. Klaim keberhasilan dalam menangani TKI bersifat subjektif dan sepihak. Buktinya, para TKI masih terus saja dirundung masalah. Padahal, Jumhur telah lama menduduki posisi sebagai kepala BNP2TKI.
"Urusan TKI di Malaysia saja tidak beres. Jangankan persoalan admistrasi dan dokumen kerja, jumlah TKI di sana sampai sekarang tidak jelas. Coba ditanya, berapa jumlah TKI yang legal dan berapa yang tidak memiliki izin? Itu baru persoalan jumlah. Belum lagi karut-marut persoalan yang mereka hadapi selama ini," ujarnya.
Di samping itu, klaim bahwa Jumhur juga didukung dan merepresentasikan aktivis muda juga bisa dibantahkan. Mungkin ada sedikit elemen aktivis muda yang mendukung. Tetapi hampir bisa dipastikan lebih banyak yang tidak tahu menahu dan tidak peduli dengan keinginan Jumhur bertarung di konvensi. Artinya, masih banyak tokoh pemuda lain yang lebih layak disebut sebagai representasi kaum muda.
Karena itu, keinginan Jumhur maju dalam konvensi Partai Demokrat dinilai tidak sungguh-sungguh. Target akhirnya belum tentu menjadi capres. Bisa saja ada target lain di luar itu yang sifatnya temporal.
"Kalau ikut konvensi setidaknya akan sering muncul di media. Dengan begitu, Jumhur bisa lebih terkenal. Dengan modal itu, bisa saja dia menargetkan menjadi menteri pada kabinet yang akan datang," demikian Mora.
[dem]
BERITA TERKAIT: