Mirip bayi sungsang dalam rahim ibunya. Seperti itu pula politik dalam rahim Ibu Pertiwi. Elite politik republik ini melakonkan watak dan perilaku politik sungsang, seringkali salah tempat dan posisi tanpa etika dan moral.
"Kekuasaan dan uang menjadi episentrum berpolitik yang membelokkan arah politik dari tujuan bernegara," ujar pengamat politik senior, Soegeng Sarjadi, dalam sambutannya pada diskusi "Masa Depan Indonesia: Tantangan 20 tahun ke Depan dan Analisis Politik 2012: Suara Tuhan: Suara Rakyat Versus Suara Elite", di Garden Terrace Hotel Four Seasons, Jakarta Selasa (18/12).
Menurut Soegeng, saat ini rakyat mulai ragu dan kelelahan mengikuti perkembangan politik tanah air. Elite politik negeri ini justru makin riuh dan bising. Gambaran wajah politik kotor dalam kubangan korupsi menjadikan makin jauh dari amanah berpolitik untuk negera dan kesejahteraan.
"Berpolitik kian sarat perburuan rente dalam arus utama untuk kekuasaan," ungkap Soegeng.
Soegeng menyebut tahun 2012 tahun sungsang. Presiden yang seharusnya terdepan menegakkan politik bernegara seringkali terseret dalam arus permainan politik kekuasaan dan pemerintahan. Perseteruan KPK dan Polri mesti berakhir dalam ketegangan baru. Koalisi Setgab yang dibangun untuk menguatkan pemerintahan SBY-Boediono tidak efektif dan rapuh.
Sambungnya, kepercayaan rakyat terhadap DPR terperosok tajam akibat kongkalikong dan perburuan rente yang sulit dibuktikan.
"DPR lebih dilihat sebagai tempat politisi mencari nafkah ketimbang tempat para wakil rakyat berkumpul membicarakan nasib rakyat," katanya.
"Politik sungsang antara eksekutif dan legislatif menjadikan relasi keduanya hampir tidak pernah sejalan, hingga politik menjadi gaduh dan ricuh,
noise but voiceless," tambah Soegeng.
[ald]