"Selama ini saya dan Pak Jokowi mempunyai komitmen yang sama ketika dicalonkan menjadi wali kota dan wakil wali kota. Saya membuat konsep dan Pak Jokowi membuat komitmen," kata Rudy usai menjadi pembicara suatu seminar di Gereja Santo Ignatius Kota Magelang, Rabu (26/9).
Ia mengatakan, selama ini mereka berkomitmen bahwa pemimpin adalah pelayan masyarakat, jadi reformasi birokrasi adalah mengubah perilaku dalam melayani masyarakat.
"Melayani masyarakat inilah yang menjadi semboyan kami untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat salah satunya menciptakan masyarakat yang 'wasis, waras, wareg, mapan, papan'," katanya.
Ia mengatakan, "wasis" untuk dunia pendidikan, masyarakat harus mendapat pendidikan murah, warga miskin bisa menikmati pendidikan hingga tingkat SLTA. "Waras" untuk bidang kesehatan, masyarakat tidak mampu bisa mendapat layanan kesehatan yang murah dengan standar rumah sakit.
Rudy mengatakan, semua kepala daerah harus mempunyai komitmen bahwa hakikat pemimpin itu sama dengan pelayan.
"Manusia diberi kemampuan luar biasa oleh Tuhan, kuncinya satu kata kemauan untuk memanfaatkan kelebihan itu ada tidak pada yang bersangkutan," katanya.
Ia menuturkan, Jokowi sebelum menjadi wali kota tidak pernah berkecimpung dalam organisasi, artinya belum pernah melayani masyarakat. Namun, karena kemudian terbiasa akhirnya juga mau melayani masyarakat dari tataran bawah sampai atas.
Visi Kota Solo, katanya, Solo masa depan adalah Solo masa lalu, artinya yang dulu ada sekarang tidak ada, akan diadakan kembali.
Ia mencontohkan, pendataan cagar budaya, menghidupkan dolanan anak seperti gobaksodor, bekelan, jamuran, engklek.
"Untuk menghidupkan hal itu, akan kami adakan festival dolanan anak atau festival lagu dolanan anak. Festival ini untuk merangsang kembali agar anak-anak mau melakukan hal baik demi pembangunan karakter anak," katanya.
[ant/arp]
BERITA TERKAIT: