Keputusan pemerintah membebaskan bea masuk impor kedelai dari sebelumnya 5 persen untuk mengendalikan harga kedelai yang melonjak diapresiasi.
"Kita mengapresiasi hal ini sebagai langkah pendek," ujar pengamat ekonomi-politik Syahganda Nainggolan kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 26/7).
Tapi, Syahganda tetap heran, kenapa persoalan mahalnya harga kedelai ini kembali terjadi. Dia mengingatkan, tahun 2008, hal yang sama juga terjadi. Karena itu, pemerintah harus bisa mengantisipasi agar kejadian yang sama tidak kembali terulang.
"Menteri Perdagangan perlu melakukan diversifikasi sumber kedelai baik impor dari negara lain dan kedua mengupayakan produsen lokal berkembang," jelasnya.
Saat ini, 75 persen kebutuhan kedelai dalam negeri dipasok dari luar negeri, yang didominasi Amerika Serikat, yang saat ini mengalami kekeringan sehingga mengganggu pasokan kedelai dalam negeri. Tak hanya, masih kata Syahganda, banyak petani kedelai yang beralih menanam jagung karena harga kedelai tidak memberi keuntungan signifikan.
Dia mengakui, kedelai lokal kurang disukai. Tapi hal itu bisa diatasi dnegan menggunakan teknologi pertanian. Perajin tahu dan tempe juga bisa melakukan pencampuran kedelai impor dan lokal dalam berproduksi.
"Tapi bagaimana produk lokal ini bisa ditingkatkan dari 25 persen menjadi bisa 50 persen. Jadi jangan sampai ketergantungan kita 75 persen terus," ungkapnya sambil mengingatkan kembali, untuk menggenjot produksi kedelai dalam negeri, pemerintah harus memproteksi, melindungi, dan mendukung petani kedelai. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: