Muhammad Nur hanya bisa pasrah. Sudah dua hari ini dia tak mendapatkan suplai tahu dan tempe dari produsen.
Harga bahan utama pembuat tempe dan tahu, kedelai yang melambung tinggi hingga mencapai Rp 8.000 per kilo pada dua bulan belakangan membuat para produsen tempe dan tahu protes. Karena itulah, ribuan produsen tempe dan tahu se-Jabotabeka melancarkan aksi mogok massal menjual dan memproduksi yang dimulai hari ini hingga Jumat (25-27/7).
"Kalau kedelai per kilonya 8 ribu rupiah, saya mesti jual berapa (tahu dan tempe) sama pembeli. Kan pembeli kasihan," keluh Nur yang keseharian berdagang sayuran di lantai tiga Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu pagi (25/7).
Tahu yang biasanya Rp 1.500 per potong kini naik menjadi Rp 7.500 per potong. Begitu pun tempe dari harga Rp 3.500 per balok menjadi Rp 8 ribu per balok.
Nur juga mengeluhkan sepinya pembeli selama dua hari terakhir lantaran aksi mogok massal yang dilakukan para produsen tempe dan tahu.
"Yaa, namanya ibu-ibu ya mau irit Mas. Mau beli daging sapi mahal, daging ayam mahal, jadi makanan alternatif orang-orang bawah ya tahu dan tempe," sambung pria setengah baya itu, seperti dikutip dari JakartaBagus.Com .
Kata Nur lagi, rasanya tidak wajar bila pemerintah membiarkan harga tempe dan tahu yang notabene makanan masyarakat kelas bawah ikutan naik. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: