Karena itu, Ketua Presidium GMNI, Twedy Noviady, menyayangkan pemberitaan yang menyebutkan bahwa Rakornas GMNI menolak empat pilar, dan berakhir dengan ricuh. Tweddy menilai kabar tersebut sangat berlebihan dan jelas berdasar pada kabar bohong.
Twedy mengakui bila dalam Rakornas GMNI terjadi keributan antara panitia daerah dengan Ketua DPC GMNI Cianjur, Billy. Namun kericuhan terjadi di luar, dan bukan pada saat persidangan. Masalah ini pun sudah diselesaikan, serta kedua belah pihak sudah sepakat berdamai.
Sementara itu, saat dimintai keterangan (Sabtu, 20/7), Ketua DPC GMNI Cirebon yang juga Sekretaris Komisi Politik, Ibnu Abdillah, sangat menyayangkan pernyataan Ketua DPC GMNI Bandung, Ilham Wiratmaja. Ilham terkesan menyebarkan kebohongan publik. Sebab, selain bukan menjadi perserta Komisi Politik, Ilham juga tidak menyampaiak hal yang tidak sesuai dengan sebenarnya, dan menyebut GMNI menolak empat pilar.
"Di Komisi Politik tidak ada hasil menolak empat pilar. Yang menjadi persoalannya adalah ketika hasil kesepakatan itu dipelintir, kemudian kawan-kawan di komisi politik protes ke ketua komisi politik," ungkap Ibnu, sambil mengatakan bahwa pada akhirnya peserta sidang Komisi Politik dikumpulkan lagi dan sepakat tidak menolak empat pilar sesuai keputusan sidang Komisi Politik.
Hal senada disampaikan Ketua Sidang pleno, Adrianus Nompi Dura, yang menegaskan bahwa Rakornas GMNI sama sekali tidak menolak sosialisasi empat pilar kebangsaan. Terkait dengan keributan, Ketua GMNI Lubuk Linggau, Febri, menegaskan bahwa itu tidak terjadi di ruang persidangan dan bukan kerusuhan antara DPC sebagaimana diberitakan.
"Kami aktivis GMNI yang mengerti etika perjuangan. Yang benar adalah Bung Billy provokasi di luar tempat persidangan dan panitia daerah khawatir itu bisa menimbulkan kerusuhan. Bagaimana mungkin ricuh di persidangan, sementara Bung Billy sendiri bukan anggota Komisi Politik," demikian Febri.
[ysa]
BERITA TERKAIT: