Fenomena Pilkada Jakarta Diyakini akan Terulang pada 2014

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 16 Juli 2012, 09:09 WIB
Fenomena Pilkada Jakarta Diyakini akan Terulang pada 2014
hanta yuda ar
rmol news logo Fenomena pemilihan kepala daerah DKI Jakarta dinilai bisa dijadikan sebagai barometer perpolitikan di  Indonesia secara nasional. Paling tidak untuk membaca trend atau kecenderungan secara psikologis pilihan politik masyarakat.

Demikian disampaikan pengamat politik The Indonesian Institute Hanta Yudha kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 16/7).

Hanta menjelaskan, kemunculan Joko Widodo sebagai calon gubernur DKI Jakarta itu pada awal tidak diperhitungkan. Karena namanya muncul tiba-tiba.

"Itupun karena PDIP gagal berkoalisi dengan calon gubernur incumbent Fauzi Bowo. Awalnya Taufiq Kiemas (Ketua Deperpu PDIP) lebih condong dukung Foke (panggilan Fauzi Bowo). Jadi Jokowi (sapaan Joko Widodo) ini muncul karena gagal koalisi tadi," jelas Hanta.

Karena itu, menurutnya, pada pemilihan presiden 2014 mendatang, sangat mungkin akan muncul figur alternatif di luar nama-nama yang sudah beredar saat ini. Apalagi muncul dari kalangan figur muda.

"Pelajaran lainnya dari pilkada DKI, pesan perubahan cukup kencang. Keinginan publik akan perubahan. Paling tidak sampai putaran pertama ini cukup kuat. Hal itu bisa jadi terjadi padi politik 2014," sambung Hanta.

Seperti halnya pada pilpres 2004 dengan tegline "perubahan" dan 2009 dengan tagline "lanjutkan" dari Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu.

"Nah, tampaknya kecenderungan di 2014 akan mengulang pola 2004, perubahan." Sinyal itu mestinya bisa dibaca partai-partai sebagai keinginan publik akan figur baru (figur alternatif), yang lebih segar dan dari kalangan generasi muda," tandasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA