"Kalau dari konteks komunikasi politik, itu sah-sah saja dilakukan," ungkap pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 4/4).
"Tapi kalau sifatnya sporadis, hanya memanfaatkan event, kemudian tidak ada program yang berkelanjutan dalam mendekati simpul-simpul suara, tentu itu tidak akan berdampak signifikan. Karena, toh semua calon melakukan itu," sambung Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute ini.
Menurut Gun Gun, kalau mau efektif menggaet massa, mestinya para calon tidak hanya berhenti memberikan bantuan. Tapi para calon harus melanjutkannya dengan melakukan pemberdayaan masyarakat atau community development. Pemberdayaan masyarakat itu biasanya dilakukan dengan tiga hal.
Pertama, community services. Para calon memberikan servis kepada masyarakat. Misalnya, memberikan pelayanan kesehatan, membangun infrastruktur dan lain-lain. "Kedua community empowerment, memberdayakan masyarakat yang sudah langganan terkena banjir. Ketiga community relation, membangun sentra-sentra komunikasi di daerah yang tahunan terkena banjir," imbuhnya.
Menurut Gun Gun, kalau itu yang dilakukan oleh para calon, kemungkinan masyarakat akan memilih para calon tersebut. "Tapi, kalau hanya bagi-bagi beras, itu hanya easy come easy go. Mudah datang, citranya juga mudah pergi," tandasnya. [zul]
BERITA TERKAIT: