RMOL. Pelaksanaan pendidikan di DKI Jakarta sepertinya tidak bisa lagi jadi contoh yang baik bagi provinsi lain. Kasus 2.531 gedung sekolah rusak di wilayah DKI Jakarta dinilai sebagai awal buruk bagi dunia pendidikan. Hal tersebut diyakini membuat pendidikan di ibu kota semakin melorot.
Hal tersebut diungkapkan anggota Komisi E DPRD DKI JaÂkarta Jhonny Simanjuntak. MeÂnurutnya, di kota metropolitan seperti Jakarta, gedung sekolah deÂngan kondisi rusak berat seÂharusnya tidak lagi ditemukan. Alasannya, Jakarta meÂrupakan ibu kota negara yang dekat dengÂan pusat kekuasaan.
Jhonny mengungkapkan, saÂrana dan prasarana di Jakarta belum semuanya dalam kondisi baik. “Orang di daerah lain kan baÂnyak berkaca ke Jakarta. Jika Jakarta tertinggal dibanding provinsi lain, ini sangat tidak lucu. Bukan tidak mungkin ini menjadi preseden buruk terhadap dunia pendidikan secara umum,†kata Jhonny.
Politisi PDI Perjuangan ini meÂnambahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta harus belajar pada Kuala Lumpur daÂlam pengelolaan pendidikan. Di negara tersebut, pembangunan saÂrana dan prasarana pendidikan menjadi prioritas.
“Pendidikan ini dianggap sumÂber pembangunan daerah dan neÂgara. Bila kurang maksimal, output pendidikan tidak tercapai terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM),†ujarnya.
Sebenarnya, ungkap Jhonny, nilai APBD DKI Jakarta 2012 seÂbanyak Rp 36 triliun meruÂpakan yang paling besar dibanding proÂvinsi lainnya. Untuk itu, dia menÂdorong agar alokasi anggaran unÂtuk bidang pendidikan ditingÂkatkan.
Jhonny mengungkapkan, selaÂma ini anggaran pendidikan 20 persen banyak tersedot pada gaji guru. “Jumlah gedung sekolah di Jakarta cukup banyak. Bahkan tidak sedikit juga gedung itu kondisinya sangat elit. Tapi tidak kalah banyak juga gedung sekolah dalam kondisi memÂprihatinkan,†terangnya.
Berkaitan hal ini, anggota KoÂmisi E lainnya Iman Satria meÂminta Pemprov DKI merespon cepat kasus sekolah rusak ini. MeÂnurut dia, persoalan gedung seÂkolah ini menjadi tanggung jaÂwab pemprov memperbaikinya.
Sedangkan anggota Komisi E lainnya Firmansyah menilai, baÂnyaknya sekolah rusak itu tidak terlepas dari kualitas pengerjaan proÂyek.
“Bagi sekolah yang pernah direhab beberapa tahun lalu dan ternyata ada yang roboh, mesti dipertanyakan bagaimana kinerja kontraktornya,†katanya.
Firman mengakui, sejumlah gedung sekolah sudah berusia puluhan tahun. Untuk itu, Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta harus mempercepat proses perÂbaikan sekolah yang dibangun sejak 1970 hingga 1980.
“Tidak etis kiranya bangunan sekolah di ibu kota ini yang berÂusia puluhan tahun tidak pernah diperbaiki. Padahal, APBD DKI Jakarta tetap menganggarkan dana untuk pendidikan. Dalam item pendidikan itu termasuk juÂga perbaikan bangunan sekolah,†terangnya.
Firman menyebutkan, tahun ini ada pengalokasian anggaran untuk rehab total 22 bangunan sekolah. Anggaran untuk rehab total itu sebanyak Rp 227,9 miliar. Selain itu, ada pula 60 keÂgiatan penyelesaian rehab total deÂngan anggaran Rp 112,97 miliar. Rehab berat 11 kegiatan di tingkat Sudin Dikdas dan DikÂmen 360 kegiatan dengan angÂgaran Rp 427,32 miliar.
Dahulukan Perbaikan Sekolah Negeri
Kepala Dinas Pendidikan (DisÂdik) DKI Jakarta Taufik Yudi MulÂyanto membenarkan adanya 2.531 gedung sekolah di ibu kota yang rusak berat. Gedung sekolah yang rusak tersebut meliputi sekolah negeri dan sekolah swasta. Saat ini perÂbaikan sekolah lebih difokuskan pada sekolah negeri, sedangkan sekolah swasta dengan skala prioritas.
Disdik DKI Jakarta, ungkapÂnya, tidak mungkin mampu memÂperbaiki 2.531 gedung seÂkolah rusak berat ini dalam waktu cepat. Perbaikan ini butuh waktu cukup lama. “Bila masih banyak sekolah negeri rusak belum diperbaiki, belum tentu kita dapat membantu perbaikan gedung sekolah swasta. Kita mengguÂnakan asas skala prioÂritas. ArtiÂnya, lebih memÂprioÂritaskan sekolah negeri, karena sekolah itu menjadi tanggung jawab pemeÂrintah daerah,†kata Taufik.
Perbaikan itu, lanjutnya, dianggarkan dalam APBD, ada juga mendapat bantuan anggaran dari pemerintah pusat. Taufik menyebutkan masih banyak seÂkolah di Jakarta ketika dibangun pada 1980-an, namun hingga kini belum diperbaiki.
Gedung sekolah lama ini terdiri atas SD, SMP, SMA, dan SMK, dilakukan bertahap. “PerÂbaikanÂnya butuh waktu dan angÂgaran cukup banyak. Ini dihaÂrapkan dapat membuat ketahanan gedung mencapai 5 sampai 10 tahun,†sambung Taufik.
Sebelumnya, Menteri PendiÂdikan dan Kebudayaan (MendikÂbud) M Nuh menyatakan, mayoÂritas sekolah rusak di Jakarta terÂdapat di Jakarta Utara. Sekolah rusak berat ini terdiri atas gedung SD sebanyak 1.198, sedangkan SMP 1.333 sekolah.
Di samping perbaikan untuk seÂkolah rusak di DKI Jakarta, Mendikbud mengungkapkan, sekolah rusak terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan rusak berat sebanyak 132.000, rusak sedang 180.000.
Pemerintah pusat mengalokasiÂkan dana tersebut melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 800 miliar dan dana KemenÂterian Pendidikan Rp 700 miliar. SeÂdangkan pada 2012, jumlah ruang kelas akan direhabilitasi meÂningkat menjadi lebih dari 173.000 ruang kelas dengan alokasi dana mencapai Rp 15,822 triliun, terdiri atas Kemendikbud Rp 8 triliun dan DAK Rp 7,8 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: