Memang, Imlek masih bulan depan, namun nuansa Imlek begitu terasa lantaran mulai dari 7 Januari 2012, hingga sepuluh hari kemudian, diadakan Imlek Fair di Kota Medan.
Di Imlek Fair kali ini, juga dipamerkan berbagai usaha kecil dan menengah dan koperasi se-Kota Medan. Selain itu, kesenian-kesenian khas negeri Tirai Bambu diperkenalkan disana. Agar para pengunjung tak kelaparan, panitia juga menyediakan stand khusus makanan khas dari China ataupun Medan.
Imlek Fair menjadi semakin meriah, lantaran dibuka secara langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan. Turut hadir dalam pembukaan tersebut, politisi Partai Demokrat Sutan Bhatoegana dan Ruhut Sitompul.
Diantara stand koperasi dan UKM, ada satu stand yang cukup menarik perhatian. Stand berukuran tak lebih dari 3x3 meter. Sedikit sekali hiasan Imlek di stand ini, hanya ada beberapa kaligrafi China saja dan memamerkan karya seni pasir dalam berbagai bentuk.
Stand itu diisi oleh seorang pria. Pria itu bernama Hendrik. Ia besar dan lahir di Medan. Hendrik menjaga stand itu karena sang ayah, Leo belum sampai di lokasi pameran.
Hendrik mengatakan, kerajinan seni pasir yang digeluti ayahnya sudah dimulai dari tahun 2001. Kala itu, sang Ayah yang kerap menjelajahi pantai tertarik untuk mengumpulkan pasir.
Hingga suatu ketika, sang Ayah berniat membangun kerajinan pajangan meja. Kerajinan yang dibuat Leo memang spesial, lantaran dibuat menjulang ke atas tanpa menggunakan rangka besi, seperti halnya yang dilakukan kerajinan lainnya.
"Kerajinan pasir ini dibuat dengan lem super keras. Kalau di Medan namanya lem setan. Dalam pengerjaannya, kadang ayah menggunakan tulang ikan dan batu alam untuk membuat kerajinannya lebih variatif," ujar Hendrik saat ditemui
Rakyat Merdeka Online di Imlek Fair, Polonia, Medan beberapa waktu lalu.
Pengerjaannya variatif, bisa seminggu bahkan sebulan. Semua tergantung tingkat kesulitan yang ada.
Soal harga, ini yang fantastis. Ada satu kerajinan yang tingginya tak lebih dari 1 meter mencapai harga Rp 38 Juta. Namun, rata-rata harganya jutaan rupiah.
Meskipun harganya menjulang, namun sampai saat ini, kerajinan seni pasir ini tak sepi peminat. "Biasanya yang beli dari mulut ke mulut. Dan kini dijadikan mata pencaharian pokok oleh ayah," lanjutnya.
Lalu apakah sudah ada bantuan dari pihak terkait?Hendrik menegaskan, sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak terkait, seperti Dinas Koperasi pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Padahal, jika bisa dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin kerajinan pasir ini menjadi ikon Kota Medan.
[arp]
BERITA TERKAIT: