"Jumlah itu membengkak apabila menggunakan standar internasional yaiu kurang dari 2 dolar AS perhari sebagaimana data dari Word Bank," kata Sekjen PP Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi), Imam Soehardjo, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 31/12).
Menurut Imam, kondisi ini sunggu ironis. Sebab rakyat menderita di dalam negara yang kaya raya. Indonesia merupakan penghasil minyak terbesar ke-29 dunia dan sementara cadangan gas terbesar ke-11 dunia. Selain itu Indonesia merupakan negara penghasil batu bara tersebesar ke-15 dunia. Indonesia juga kaya karena menghasilkan tambang mas, timah, perak, nekel, tembaga dan bijih timah. Belum lagi penghasilan dari hutan dan laut.
"Namun akibat kebijakan pemerintah yang salah, maka sebagian besar potensi alam Indonesia ini di kuasai oleh negara-negara asing," tegas Imam.
Potret rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia, lanjut Imam, jelas terlihat dari Human Development Index yang dikeluarkan oleh UNDP. Indonesia masuk pada urutan ke-124 dari 187 negara. Ini membuktikan bahwa meskipun Indonesia masuk negara-negara G-20, atau kelompok negara-negara yang memiliki GDP terbesar, namun tingkat kesejahteraan sebagian besar rakyatnya masih rendah. Hal ini juga dibuktikan dari relis Majalah
Forbes pada November 2011, bahwa sebagian besar kekayaan Indonesia dimiliki oleh 40 orang terkaya di Indonesia, yang semakin menunjukkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya.
"Hal inilah yang menyebabkan timbulnya kecemburuan sosial bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang berakibat timbulnya masalah-masalah sosial di berbagai daerah," tegas Imam, sambil mengatakan PP Parmusi mendesak pemerintah ahar berorientasi kepada kesejahteraan rakyat banyak, bukan kepada sebagian kecil rakyat yang menguasai ekonomi Indonesia.
[ysa]
BERITA TERKAIT: