Publik seringkali tergoda dan ingin terlihat mentereng dengan menjadi lebih fleksibel. Hal yang baik dan prinsipil pun dibuat seluwes mungkin dan loose. Pokok fundamental dibongkar dengan berbagai dalih. Akhirnya, tidak sadar kita menjadi bangsa yang permisif. Padahal, adagium bangsa yang besar pasti bertumpu pada attitude yang jelas: Sikap tegas, tidak plin-plan, plintat-plintut apalagi plentung pes.
Jelang musim dingin, seorang Duta Besar dari salah satu negara ASEAN untuk Rusia, berkunjung ke sebuah ibukota propinsi yang jaraknya sekitar 450 km dari Moskow. Pertemuan dengan gubernur, para pengusaha dan juga kalangan akademisi berjalan lancar. Berbagai kesepakatan penting ditelorkan.
Pemerintah setempat menyambut kunjungan itu dengan standar keprotokolan par excellence. Keramahan yang nyaris tanpa cela. Courtesy penyediaan kendaraan sedan hingga pengawalan ketat. Mungkin ini salah satu manifestasi penghormatan orang Rusia kepada bangsa lain yang dinilai hebat.
Petaka, sebut aja demikian, mulai menyeruak di penghujung kunjungan. Ketika mobil sedan hitam mengkilat yang membawa Dubes masuk ke area parkir bandara, seorang satpam dengan muka agak kucel menghentikannya. “Stop!“, teriaknya dengan kesangaran standar. Satpam kusut itu datang membawa satu map dengan ekspresi pandangan celingukan. Bolak-balik melihat nomor mobil dan kertas yang dibawanya.
Tiga menit berlalu, para pengawal di mobil terdepan masih terlihat tenang. Penumpang yang ada di dalam mobil tetap bersikap rileks. Seolah-olah, everything is under control. Tapi satpam tadi lalu mulai memperlihatkan ketidakberesan. Bolak balik masuk kantor. Membiarkan mereka berdiam dalam kendaraan tanpa kejelasan.
Selang lima menit, pasukan pengawal akhirnya turun dari mobil yang mereka tumpangi. Wajah mereka terlihat tidak ramah. Gerah menunggu ketidakjelasan satpam yang mulai menggerogoti kesabaran semua orang. Para pengawal itu mungkin khawatir dinilai tidak becus melaksanakan tugas.
Meski tidak ada luapan kemarahan, terjadi adu mulut yang jelas bisa disaksikan dari dalam mobil. Sepuluh menit berlalu, masalah belum juga selesai. Nampak tidak ada yang mengalah. Padahal Dubes mesti in rush untuk segera boarding. Waktu keberangkatan tinggal beberapa menit lagi. Nothing worried me much than this, at that time.
Aneh bin ajaib. Para diplomat di dalam mobil itu telah menyaksikan sebuah tragedi yang mungkin sulit terjadi di negaranya. Di negeri kita, misalnya, satpam mungkin menjadi profesi paling lemah. Cenderung tidak terekam baik dalam memori semua orang. Tetapi satpam di Rusia, ternyata orang yang sangat berkuasa.
Bayangkan, dengan kekuasaannya, satpam itu bisa melarang mobil Duta Besar masuk area parkir bandara. Alasannya pun akhirnya bisa dipahami. “Mobil yang dipakai Dubes tidak terdaftar di kami. Jadi, dengan alasan apapun, jangan harap kami izinkan memasuki wilayah parkir bandara,†katanya ketus.
Usut punya usut, ternyata asbanun nuzul alias asal muasalnya adalah pergantian mobil di tengah jalan pada saat kunjungan. Mobil yang digunakan sang Dubes sempat diganti yang lebih baik sehingga nomornya tidak terregistrasi bandara. Meskipun memakai bendera negrinya (sebagai tanda wakil negara tertentu) ditambah pengawalan yang demikian top markotop, seorang satpam dengan tegas mengatakan: nyet alias tidak!
Pengawal satu mobil dengan senjata lengkap itu rupanya tidak berkutik. Mereka bertekut lutut mengakui kesalahannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya terjadi komunikasi intensif antara sang satpam yang kucel itu dengan komandannya di pusat. Baru setelah ada izin resmi, mobil Dubes dipersilakan maju ke lapangan parkir.
Tidak pelak, rombongan Dubes tunggang langgang. Lari terbirit-birt menuju pesawat yang sudah menunggu. Sebuah pengalaman yang luar biasa. “We are very, very, very sorry Excellency,†ujar pengawal dan petugas protokol tergopoh-gopoh berkali-kali.
Eta Rossiya, begitu orang Rusia sering berkelakar. Artinya, “Ini Rusia Bung! Jangan samakan dengan yang lainâ€. Sayangnya, bagi banyak orang di Indonesia, Rusia tidak pernah lepas dari stigma kekakuan. Orang luar mudah menilai mereka kurang beradab. Itulah ironinya dalam menilai orang Rusia. Kita tidak dapat membedakan antara sikap kaku dan ketegasan. Tak sedikit yang berpendapat, saking kakunya orang Rusia, senyumpun sulit disunggingkan. “Wuihh apa nyamannya tinggal di Rusia. Disana orangnya kaku,†demikian pesan dalam sms yang sering kami terima.
Padahal, kalau anda sempat ke Rusia di masa sekarang, boleh jadi anda akan menemukan eksotika pergaulan yang sulit ditemui di dunia manapun. Rusia bukan lagi negeri komunis yang dikenal banyak orang. Laki-lakinya pada naik mobil BMW dan Hummer. Kaum wanitanya senang tampil seksi dan lenggak lenggok menebar harum mewangi di musim panas.
Rusia kini bahkan menjadi lebih demokratis dengan semangat beragama yang demikian tinggi. Umat Islam yang berjumlah 23 juta misalnya, terus membangun masjid dalam jumlah tujuh ribuan. Terdapat hampir 20 perguruan tinggi Islam dan puluhan calon dosennya saat ini kuliah S2 di Universitas Islam Negeri Malang, yogya dan Jakarta. Rusia bukan yang kita kenal dulu. Meski demikian, mereka belum menjadi bangsa yang sempurna.
Tetapi soal ketegasan keamanan di Rusia, tetap tidak berubah. Tak pernah lekang karena perubahan zaman. Kelihatannya, inilah salah satu sikap yang tidak perlu disentuh oleh perestroika dan glasnosts-nya Gorbachev. Tidak perlu direformasi apalagi diganti dengan sikap permisif. Sebaliknya, ketegasan menjadi aset Rusia yang mereka selalu banggakan dalam membangun masa depan mereka. Fleksibilitas, no way! Nyaris tidak memiliki tempat, atau dalam bahasa Rusianya: nyieto!
Ketegasan keamanan di Rusia sangat terkait dengan attitude kedisiplinan dan persepsi kebenaran. Penegak keamanan meskipun itu hanya berpangkat seorang satpam, jangan pernah dilawan. Memang, ia akan tampak kaku dan kadangkala menganggu. Mirip robot yang tidak memilki perasaan. Masalahnya, itulah konsekuensi pekerjaan seorang satpam. Satpam bukanlah diplomat yang diberikan kewenangan untuk melakukan negosiasi. Tarik ulur dan menemukan win-win solution. Satpam di Rusia hanyalah profesi jamak yang melaksanakan titah atasan. Loyal pada perintah sesuai prosedur keamanan yang sudah dibakukan.
Tanpa adanya izin atasan, kepada siapapun satpam di Rusia tidak akan lakukan kompromi. Zonder kompromi sama sekali. Ia tidak tunduk kepada mereka yang berpangkat atau empunya duit. Tidak pula akan memberikan kenyamanan meskipun kepada pemilik Mercedes dan Ferrari yang kinyis-kinyis. Tidak membukakan pintu meskipun yang datang orang bekulit putih dengan jas merek Hugo Boss dan dasi Versace. Ia akan selalu bilang nyet (tidak) tanpa ekspresi. Sekali lagi, eta Rossiya.
Barangkali polah tingkah satpam di Rusia tadi layak kita renungkan. Pasti ada titik-titik kebaikannya. Untuk menjaga keamanan harus selalu mengedepankan ketegasan, bukan kompromi. Mereka melakukan itu semata-mata agar tercapai rasa damai masyarakat. Agar aksi tukang copet bisa diredam. Agar penjual jamu kuat tidak berkeliaran di ruang kerja para pegawai kantor. Agar perampok tidak mudah membobol bank. Agar para teroris jera melakukan kelakuan biadabnya.
Kita semua pun menyadari, konsekuensi sebuah ketidaktegasan. Akibat kompromi yang tidak terukur baik, lebih banyak hal negatif yang justru menyeruak. Informasi dan aksi pornografi misalnya, merajalela dimana-mana. Bahkan seorang bintang yang benar-benar telah menodai tatakrama dan tatasusila tetap dielu-elukan oleh banyak pemuda dan pemudi.
Fans yang mabuk kepayang itu seolah terbutakan oleh nilai-nilai dasar bangsa ketimuran yang mengedepankan etika susila. Mereka adalah golongan rapuh dan permisif. Bukan kelompok yang tahan uji dan berprinsip. Kelompok seperti itu tidak bisa diharapkan mampu menggotong bangsa ini menuju ketegaran dan kejayaan.
Sorry, tiba-tiba saya punya pendapat agak nyeleh bin aneh. Apabila anggota dewan yang terhormat sudah berpengalaman dibuat babak belur dan carut marut karena sering dianggap “melancong†ke luar negeri, mengapa tidak mengikhlaskan sebagian anggarannya untuk studi banding para satpam ke Rusia? Dengan cara itu, citra mereka bisa jadi akan lebih humanis dan para satpampun bisa lebih disiplin, tegas, dan tidak mengenal kompromi, tidak plin-plan, tidak plintat-plintut dan tidak plentung pes!
(Penulis adalah diplomat Indonesia di Rusia, [email protected])
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.