Demikian disampaikan Wakil Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah Sholehan Latundo kepada
Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Senin, 26/9). Sholehan yang merupakan konsultan LIDI (Lingkar Daerah Indonesia) Institut, mengajak masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Solo khususnya agar menyikapinya dengan tenang, positif dan arif bijaksana.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau media, agar tidak secara provokatif dan demonstratif meliput aksi bom bunuh diri yang terjadi di gereja Bethel Injil Sepenuh Kapunton Kota Solo, karena yang demikian secara tidak langsung akan merangsang atau menarik secara kolektif atas prilaku kekerasan tersebut. "Baiknya media menonjolkan sikap-sikap pro kedamaian, ketenangan dan kondisi kondusif," pinta Sholehan.
Kepada para alim ulama, pendeta dan para tokoh agama, Sholehan mengajak agar berdakwah dengan cara-cara bijak, pro kedamaian, kebersamaan dan penuh cinta kasih. Bukan menyerukan kebencian, bahwa hanya ada satu jalan menuju surga dan menghalalkan darah kelompok lain. "Yang demikian itu bukan agama namanya, melainkan kebiadaban," jelasnya.
Kepada pemerintah dan aparat keamanan, ia menyerukan agar bertindak preventif dan advokatif atas kedamaian dan kebersatuan. Bukannya responsif dan selalu lalai yang mengakibatkan aksi-aksi teror selalu dan selalu terjadi.
[dem]