"Besarnya umat Islam akan menjadi tolok ukur maju mundurnya bangsa. Apabila maju, itu mengindikasikan majunya umat Islam. Tapi sebaliknya, mundurnya bangsa juga bisa mengindikasikan mundurnya umat Islam," kata Din di sela-sela acara silaturahim Idul Fitri 1432H PP Muhammadiyah dengan Ormas Islam dan Tokoh
Islam, di gedung dakwah Muhammadiyah, malam ini (Selasa 20/9).
Untuk itu, kata Din, alangkah baiknya apabila umat Islam hadir sebagai pemecah persoalan, bukan sebaliknya, sebagai bagian dari masalah bangsa ini.
Tugas kebangsaan kita sebagai umat adalah umat harus menjadi
determinant factor (faktor penentu) bangsa. Untuk itu, pemerintah senantiasa perlu berupaya untuk tidak membuka lebar-lebar pintu kapitalisme," katanya lagi.
Mengapa tak perlu membuka pintu kapitalisme, kata Din beralasan, karena kapitalisme dapat menyebabkan ekonomi Indonesia lemah, sehingga tidak membangkitkan potensi umat.
"Dengan kekuatan kapitalisme yang merajalela itu sama saja negara telah melakukan 'perselingkuhan' dengan kapitalisme, sehingga
the power of money menjadikan demoralisasi di tubuh umat ini. Jika ini berlangsung terus, mungkin satu atau dua dasawarsa ke depan, Ormas Islam mungkin tidak tersisa kecuali tinggal rangkanya saja," imbuh Din.
Lalu, masih kata Din, jalan keluarnya adalah rezim harus melaksanakan amanat rakyat. Jika rezim terus menerus tidak melaksanakan amanat rakyat, maka akan terus terjadi persoalan-persoalan yang besar yang menimpa bangsa ini.
[dem]
BERITA TERKAIT: