TAUSIAH RAMADHAN

Kesalehan Sosial

Oleh: Sholehan Latundo

Jumat, 26 Agustus 2011, 11:44 WIB
Kesalehan Sosial
ilustrasi
DICERITAKAN A.A. Navis lewat cerpennya Robohnya Rumah Kami, tersebutlah hidup seorang saleh bernama Haji Saleh, yang tak henti beribadah kepada Tuhan. Ia selalu berzikir, taat, dan selalu membaca Kitab Suci. Namun ia dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan. Karena tak habis pikir, ia dan kawan-kawan senasib menghadap Tuhan hendak mengajukan protes.

Maka, Tuhan pun menjawab, "Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu, sehingga mereka kocar-kacir selamanya. Inilah kesalahan terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau hidup di dunia bermasyarakat, bersaudara, tapi engkau tidak mempedulikan mereka sedikitpun."

Pesan dari novel ini bahwa, dalam sesuatu kesalehan yang bersifat individu terkandung sebuah kesalahan yang fatal. Haji Saleh memang orang yang taat beribadah kepada Tuhan. Tapi ia melupakan lingkungan sosial dan keluarga. Banyak orang kaya pergi haji untuk yang kesekian kalinya dan mereka hanya ingin merasakan kenikmatan spiritual berhaji yang tak terlukiskan itu. Kasus Haji Saleh dan orang kaya yang pergi haji berkali-kali, menyisakan sebuah pertanyaan, yakni apa yang salah dengan kesalehan ini (kesalehan individual). Padahal agama menganjurkan untuk memeperbanyak shalat sunnah, pergi haji, berpuasa a la Nabi Daud dan terpekur dalam alunan beribu-ribu zikir.

Islam sebagai agama yang bersifat universal mempunyai ajaran yang harmonis, memandang kesalahannya tidak selalu terletak pada perilaku ibadah itu. Tapi Islam melihat perilaku ibadah tersebut dalam konteks keseluruhan (kaffah).

Islam sebagai suatu sistem ajaran memandang bahwa kebahagiaan, kesuksesan dan kesempurnaan yang dijanjikannya tidak akan pernah diperoleh seseorang tanpa perlakuan yang seimbang terhadap ajarannya. Islam tidak pernah membicarakan kewajiban-kewajiban individual tanpa mengaitkannya dengan maslahat sosial; shalat berjamaah, puasa-zakat dan haji qurban.

Dalam Al Quran iman dan amal shaleh selalu ditampilkan berpasangan ketika Islam berbicara tentang tujuan pamungkas (ultimate goal) hidup manusia. "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan." QS. Al-Kahfi [18]: 110.

Dalam QS. Al-Maun [107]: 1-3, orang-orang yang shalat dicela karena membiarkan orang-orang miskin dan anak yatim kelaparan dan bahkan sebagai kelompok pendusta agama. Artinya, tidak akan diterima ibadah seseorang yang mengabaikan lingkungan sekitarnya. Demikianlah, nama-nama Allah meski kita singkap pada wajah-wajah kuyu orang-orang miskin, jerit kepedihan orang-orang teraniaya, dan tangis kelaparan anak-anak yatim piatu.

Alangkah dalamnya perhatian Rasulullah terhadap kelompok dhuafa, mari kita renungkan sabdanya. "Aku akan bersama dengan orang yang mengasihi anak yatim seperti halnya kebersamaan jari telunjuk dengan jari tengah." [***]

Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dan Direktur Eksekutif Lingkar Daerah Indonesia.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA