"Kalau kapitalis ya kapitalis saja. Jujur saja lah," ujar koordinator petisi 28 Haris Rusli Moti kepada
Rakyat Merdeka Online, beberapa waktu lalu.
Harusnya, kata Rusli, Sri Mulyani jujur saja seperti tokoh kapitalisme Indonesia lainnya, Rizal Mallarangeng yang secara terbuka mengakuinya.
"Kenapa harus takut dicap Kapitalis Neolib, lalu membungkusnya dengan isu Integritas," ucap Haris.
Haris juga mengingatkan Rocky Gerung CS, barisan pendukung Sri Mulyani sebagai Capres 2014. Katanya, kritik yang selama ini diarahkan kepada Sri Mulyani adalah kritik ideologis, bukan kritik moral. Pergeseran kritik ideologis ke ranah etis tidak etis atau soal integritas yang oleh Rocky Gerung Cs bukan pada tempatnya.
"Kok perdebatan ideologis dikaburkan jadi perdebatan soal moral, soal etis gak etis, soal integritas. Kok kita jadi kayak mahasiswa Filsafat Etika yang diajarkan oleh seorang yang telah menjual belikan bangsanya melalui serangkaian kebijakan," katanya lagi.
Ingat, sambung Haris, isu integritas yang dimainkan Sri Mulyani dan para pendukungnya berangkat dari persoalan rivalitas kepentingan modal antar pribadi dan group Sri dengan pribadi dan group Abu Rizal Bakrie, lalu diangkat menjadi seakan-akan persoalan semua orang. Publik dijebak, seakan-akan kalau anti Sri Mulyani pasti orangnya Ical, demikian juga sebaliknya.
"Lalu pertanyaannya, apakah IMF dan World Bank itu lembaga yang punya integritas? Defenisi integritas menurut pejabat IMF dan World Bank tentunya tak lain adalah eksploitasi atau penjajahan terhadap sebuah bangsa di atas aturan-aturan moral yang telah mereka defenisikan sendiri," imbuhnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: