Belasan ekor gajah keluar dari habitat mereka dan berkeliaran di jalan raya penghubung Kota Duri Bengkalis dan Pekanbaru, Riau. Menurut warga setempat, aksi kawanan gajah itu telah dalam dua hari terakhir di bulan Juli 2011. Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Provinsi Riau terus memantau pergerakan kawanan gajah yang dikhawatirkan merusak pemukiman penduduk dan mengganggu arus lalu lintas di kawasan itu.
"Kita juga telah melakukan pemantauan dan terus mengawasi pergerakan kawanan gajah-gajah itu. Setidaknya mengantisipasinya agar tidak sampai ke jalan raya," ujar Nanang seorang staf BKSDA Wilayah III Provinsi Riau.
Warga diminta agar tidak memberanikan diri mendekati kawanan gajah tersebut. Ini penting, karena bisa saja kaawnan gajah itu mengamuk.
Sementara kantor Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial menilai fenomena kawanan gajah yang keluar dari habitat dan berkeliaran di dekat pemukiman manusian bisa jadi berkaitan dengan gejala alam.
“Ingat, hewan seperti gajah, tupai dan sebagainya dalam tradisi kearifan lokal sudah diketahui sejak beribu-ribu tahun lalu dapat menjadi petunjuk awal bencana alam besar,†ujar RM Zulkipli, salam seorang asisten Staf Khusus Presiden, melalui jaringan Twitter pada Selasa pagi (2/8).
Adapun pada Senin malam kantor Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial merujuk sejumlah hasil penelitian yang dilakukan pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Danny Hilman.
Salah satu hal yang disampaikan Dr. Danny Hilman adalah, belum semua energi yang dimiliki patahan di sekitar Pulau Siberut yang berada di kawasan barat Pulau Sumatera, lepas. Bahkan, kata dia, banyak gempa yang terjadi belakangan ini ini belum mengarah pada inti.
Dari informasi Dr. Danny juga disebutkan bahwa telah terhadi 23 kali gempa berskala destruktif dalam 200 tahun terakhir. Dari catatatn yag ada, sambungnya, satu hingg dua kali gempa destruktif terjadi setiap satu dekade. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: