PIDATO SBY

Oposisi Jangan Asal Komentari SBY dan Anas

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Selasa, 12 Juli 2011, 20:11 WIB
Oposisi Jangan Asal Komentari SBY dan Anas
sby-anas/ist
RMOL. Oposisi diminta tidak asal membaca dan memberikan komentar terhadap  Pidato Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, kemarin malam. Apalagi membacanya langsung sebagai sinyal ketidakberesan baru di internal Demokrat, yakni sebagai Ketua Umum Partai, posisi dan kapasitas Anas Urbaningrum tidak jelas.

Sebelumnya, salah seorang tokoh oposisi, Fadjroel Rahman, di salah satu televisi, sempat melontarkan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum selama ini tidak memberikan kontribusi apa-apa. Buktinya, saat SBY menyampaikan pidatonya, Anas tak berbicara sedikitpun dan hanya berdiri di belakang SBY.

“Komentar Fadjroel identik dengan komentar di luar batas nalar sehat. Fadjroel sama sekali tidak paham dengan tradisi partai Demokrat dan konsesus internal PD,” ujar Ketua Bidang Kominfo Forum Kesatuan dan Persatuan Bangsa (FKPB) Ery Ratmady kepada Rakyat Merdeka Online (Selasa sore, 12/7). FKPB merupakan salah satu Ormas pendukung SBY.
 
Ditegaskan Ery, komentar dari Fadjroel Rahman, atau kebanyakan kalangan mengenai Partai Demokrat sekarang ini sangat menggambarkan kalau orang-orang tersebut sok paling tahu dengan masalah internal Demokrat. Padahal para komentator tersebut tidak tahu yang sebenarnya terjadi di internal PD. Sebagai sebuah organisasi politik, Demokrat punya manajemen dan aturan sendiri dan itu sudah tertata.

“Saran saya kalau Fadjroel Rahman ingin masuk PD masuk saja tidak perlu malu-malu. Terlebih lagi pakai cara-cara mencari sensasi dengan berkomentar yang menyudutkan SBY dan partai Demokrat,” sindir Ery.

Disisi lain, Ery meminta kepada media, agar berimbang dalam memberitakan sesuatu. Tidak memanipulasi kebebasan pers untuk menggiring publik, agar memiliki rasa benci yang tidak beralasan kepada pemerintah, umumnya terhadap Demokrat.

“Sikap yang tidak objektif juga terindikasi muncul dari media-media yang condong dalam kepentingan tertentu. Bahkan pemberitaannya tidak berimbang dengan alasan kebebasan pers, namun menggiring untuk di jadikan mainstriming dalam membentuk pola berfikir masyarakat yang mengkonsumsi pemberitaan tersebut,” pungkas Ery. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA