"Karena itu kita membutuhkan pemimpin yang luar biasa komitmennya," kata kata pengamat politik Refly Harun kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 12/6).
Namun, dalam pandangan Refly setelah membaca perkembangan belakangan ini, komitmen SBY melakukan pemberantasan korupsi dan membenahi birokrasi agak melemah. Hal itu ia sayangkan. Karena kinerja SBY menurun di banding periode pertama yang relatif tidak begitu banyak gangguan.
"Periode pertama kan banyak bencana alam di mana-mana, tsunami dan lain sebagainya. Pada periode kedua ini lebih banyak guncangan politik memang, mulai dari Century. Tapi kan pemerintahan mestinya tetap bisa berjalan lebih efektif," jelasnya.
Di pemerintahan saat ini, siapa sebenarnya yang tidak efektif bekerja, SBY atau para menteri?
"Dua-duanya menurut saya. Tetapi SBY sebagai kepala pemerintahan kan bisa memberikan contoh. Selain dia berikan contoh, dia juga bisa membuat keputusan. Menurut saya SBY terlalu kompromistis," jawabnya.
Tapi saat ditanya, apakah dengan begitu kalau SBY tidak kompromistis berarti dia perlu melakukan perombakan kabinet dan siapa menteri yang dicopot, Refly mengaku tidak tahu. Karena menurutnya, hal itu saja tergantung SBY sendiri.
"Kita tidak bisa menilai satu demi satu. Memang banyak pro kontra pada kementerian tertentu, misalnya Kementerian Hukum dan HAM. Itu berkali-kali mengalami masalah., masalah di imigrasi dan di penjara. Tetapi, kita tidak tahu apakan SBY
satisfied apa tidak," teranganya.
Namun, dia meyakinkan bahwa menteri yang potensial untuk tidak fokus pada kinerja di pemerintahan adalah menteri yang juga merangkap sebagai ketua umum partai. Apalagi, dia menduga, para menteri itu sebenarnya lebih fokus kepada membangun partai dan mempertahankan kekuasaan daripada bekerja untuk kementerian yang dipimpin.
[zul]
BERITA TERKAIT: