"Ya bahwa fitnah atau propoganda,
black campign itu sangat biasa menyerang seorang kepala negara, (Barack) Obama, (Dmitry) Medvedev, (Vladimir) Putin, hampir semua dihajar oleh lawan-lawan politik atau orang yang tentu saja punya kepentingan terhadap delegitimasi seorang Presiden dengan cara apa pun," kata pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 31/5).
Reaksi ini semakin meneguhkan dugaan publik bahwa SBY sangat peka terhadap isu-isu kecil dan pihak-pihak yang menyerangnya secara pribadi. Sementara isu-isu besar kebangsaan yang harusnya dia perhatikan justru tak mendapat porsi untuk dijelaskan kepada masyarakat secara gamblang.
Menurutnya, kalau masalah SMS cukup jurubicara Demokrat atau jurubicara kepresidenan yang menanggapi. Sedangkan SBY tetap konsen pada isu-isu besar dan masalah kebangsaan lainnya.
"Misalnya, bagaimana posisi Nazaruddin di DPR. Dia (Nazaruddin) tidak hanya dipecat di Bendahara Umum tapi juga diparkirkan di gedung parlemen. Karena kerja-kerja Nazaruddin yang tidak bisa efektif lagi atau dan lain-lain atau misalnya bagaimana dia membersihkan partai dari gejala korup yang semakin akut," terang Direktur The Political Literacy Institute ini.
"Kemudian menurut saya, misalnya persoalan lain yang lebih besar masalah kebangsaan. Misalnya, apa sih hasil
join ministery meeting antara Indonesia dan Malaysia di Kinabalu terkait dengan komplik antara Indonesia-Malaysia sampai sekarang Presiden tidak pernah menyampaikan secara gamblang kepada publik," sambung Dosen Ilmu Komunikasi Politik UIN Jakarta ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: