Demikian dikatakan Vice President (VP) Corporate ComÂÂmunication PT. Pertamina, Mochamad Harun, lewat keterangan pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online (Kamis, 28/4).
Pertamina, sebagai operator di ONWJ, berhasil meningkatkan produksi minyak lapangan ONWJ dari sebelumnya 21.000 barel per hari menjadi 30.000 barel per hari dan produksi gas sebesar 200 juta kaki kubik (mmscfd).
Bila dipercaya sebagai operator di Blok WMO, Pertamina akan mensinergikan kemampuan operasional di ONWJ ini dengan pengelolaan blok WMO sehingga diharapkan dapat menghemat biaya operasional hingga 10% yang juga akan menurunkan
cost recovery.
Pertamina telah menyiapkan komitmen investasi sebesar US$ 1 miliar untuk pengelolaan blok WMO lima tahun ke depan dan berkomitmen untuk peningkatan produksi minyak dari 13.400 barel per hari saat ini menjadi 40.500 barel per hari dan produksi gas dari saat ini 138 juta kaki kubik (mmscfd) menjadi 204 juta kaki kubik (mmscfd) pada 2015.
Untuk mencapai peningkatan produksi tersebut, Pertamina berkomitmen melakukan pengeboran sebanyak 86 sumur dalam 5 tahun yang terdiri dari 11 sumur eksplorasi, 67 sumur pengembangan dan 8 sumur workover.
Pertamina saat ini memiliki lebih dari 500 karyawan dengan rata-rata pengalaman 20 tahun di operasi offshore, yang mempunyai kinerja keselamatan baik dan terbukti dapat meningkatkan produksi.
"Dalam rencana pengelolaan WMO, Pertamina juga bersedia mempertahankan karyawan lokal tetap yang bekerja di blok WMO saat ini, bahkan memberikan peluang kemajuan karir bagi pekerja di Blok WMO untuk berkembang di organisasi Pertamina lainnya," tandasnya.
Terakhir, Harun mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada BP Migas yang merekomendasikan Pertamina kepada Pemerintah sebagai operator blok WMO.
Meski Pertamina telah mengharapkan agar dijadikan sebagai operator, tapi sampai saat ini pemerintah belum mengabulkan. Saat ini yang menjadi operator Blok Migas WMO adalah perusahaan asal korea.
[zul]
BERITA TERKAIT: