"Banyak itu pimpinan harian di DPP yang bukan kader PAN (sebelumnya). Bahkan untuk Bendahara Umum DPP PAN (Jhon Erizal) itu, kita kan tidak tahu (siapa dia). Makanya kita tidak paham," kata mantan Wakil Sekjen DPP PAN Abdurrohim Ghazali kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 23/4)
Tak sampai di situ, sampai saat ini PAN juga terus merekrut yang bukan kader sendiri untuk masuk dalam jabatan strategis, termasuk di berbagai wilayah. Dia mencontohkan, Ketua DPW PAN Jawa Barat saat ini, Edi Darnadi. Mantan Kapolda Jawa Barat itu tegasnya, bukan kader PAN.
Menurut Rohim hal itu semestinya tidak dilakukan oleh PAN. Karena PAN merupakan partai yang sudah lama didirikan, lebih dari 10 tahun. Beda hal dengan partai yang baru, dimana parai itu baru pada tahap pembentukan. Jadi wajar merekrut kader lain.
Pada masa kepemimpinan Soetrisno Bachir, Rohim mengakui, bahwa perekrutan bukan kader itu itu juga dilakukan, khususnya merekrut pada selebritas. Tapi, dia menekankan, selebritas itu direkrut untuk memperluas jangkauan partai dan bukan ditempatkan pada jabatan strategis.
"Karena pimpinan itu tugasnya untuk menjaga
platform dan yang lain-lain. Kalau diberikan kepada orang baru yang tidak mengerti
platform PAN, bagaimana kita bisa memberikan contoh yang baik buat kader-kader yang lain," tegasnya sambil menilai kepindahan Dede Yusuf dari PAN merupakan konsekuensi logis dari kebijakan Hatta Rajasa yang banyak merekrut orang yang bukan kader PAN di jabatan strategis.
[zul]
BERITA TERKAIT: