Buktinya, sejak tahun 2006 jumlah penduduk miskin Indonesia menurun cukup signifikan. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin Indonesia sebesar 39,3 juta, menurun menjadi menjadi 31,05 juta pada tahun 2010.
Namun, Dahnil Anzar Simanjuntak, ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten tidak serta merta percaya dengan data BPS. Indikator kemiskinan yang turun, imbuh Dahnil, harus di redefenisi.
"Mereka (BPS) menyebut kaum miskin adalah yang berpenghasilan 211.726 (survei 2010). Dan apabila dihitung perhari per kapita, mereka yang disebut miskin adalah yang berpengeluaran dibawah Rp 6.000 per kapita," katanya kepada
Rakyat Merdeka Online melalui pesan elektronik, Rabu (6/4).
Sedangkan, masih kata Dahnial, kriteria World Bank yang disebut miskin adalah mereka yang berpenghasilan dibawah USD 2 atau sekitar Rp 17.000. Dan jelas definisi dan ukuran kemiskinan versi BPS yang disebutkan terus menurun.
Data ini juga mengabaikan kelayakan manusiawi, tetapi pro manipulasi angka indikator pembangunan. "Jangan sampai perilaku akrobasi yang berorientasi pada keelokkan angka dibuat, agar seolah-olah kinerja ekonomi berhasil dan bekerja secara efektif. Sampai kapan pun, apabila orientasi pembangunan hanya berdasar formalitas angka dan abai orientasi kesejahteraan manusia, maka pembangunan tidak akan pernah dirasakan rakyat," imbuhnya.
[arp]
BERITA TERKAIT: