Julukan Indonesia Sebagai Negara Demokratis Mulai Memudar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 06 April 2011, 20:37 WIB
Julukan Indonesia Sebagai Negara Demokratis    Mulai Memudar
ilustrasi/ist
RMOL. Lembaga swadaya masyarakat Imparsial mendesak Presiden SBY agar tidak berdiam diri terhadap masalah kekerasan, yang dialami beberapa kelompok keagamaan minoritas.

"Kalau beliau (SBY) diam maka semangat kebhinekaan ke depannya akan hancur lebur," ujar Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti seusai konferensi pers di Bakoel Coffee, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Rabu (6/4).

Poengky mengingatkan, Indonesia bisa dikategorikan oleh dunia internasional sebagai negara yang tidak toleran terhadap kegiatan beragama dan berkeyakinan bila kondisinya tidak membaik. Apalagi kasus kekerasan yang menimpa pengikut Ahmadiyah, beberapa waktu lalu, sudah dilaporkan ke Dewan HAM PBB.

Menurut Poengky, kasus kekerasan seperti yang terjadi di Temanggung dan Banten telah memunculkan pandangan dari pihak luar negeri bahwa situasi di Indonesia mengikuti pola kekerasan yang ada di Pakistan, India, Srilangka dan Bangladesh.

"Padahal Indonesia sudah dikenal negara demokratis oleh PBB. Tapi dengan meningkatnya kekerasan dan kondisi toleransi dan kebebasan berkeyakinan dalam kondisi berbahaya maka memudarkan julukan Indonesia sebagai negara demokratis. Dunia internasional mempertanyakan," katanya.

Namun Poengky memastikan, SBY akan tercatat sebagai bapak pemersatu bila mampu menyelesaikan masalah kekerasan ini selama masa kepemimpinannya berlangsung. [wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA