Hal ini melalui wacana menganulir harga cabai sebagai salah satu instrumen yang dipakai dalam menghitung inflasi seperti yang disampaikan Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawaty karena selama ini dianggap sering memicu tingginya angka inflasi.
Demikian dikatakan ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Dahnil Anzar Simanjuntak kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 31/12).
Menurut Anzar, wacana ini mempertegas perilaku pembuat kebijakan ekonomi yang miskin solusi dan substansi dalam menjaga stabilitas inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
"Akibatnya solusi kebijakan yang ditawarkan adalah akrobatik angka yang abai terhadap substansi dari permasalahan inflasi tersebut, yakni
supply and demand serta faktor lainya," ujar penulis buku "Akrobatik Pembangunan" ini.
Perilaku kebijakan ekonomi yang berorientasi pada angka statistik agar terlihat elok dan anggun supaya seolah-olah pemerintah berhasil dalam realisasi pembangunan ekonomi, menurutnya, telah menegasikan orientasi pembangunan ekonomi yakni untuk kepentingan rakyat.
"Sehingga seringkali kita temukan fakta ekonomi di atas kertas baik, tetapi yang dirasakan rakyat sebaliknya," demikian Dahnil.
[zul]
BERITA TERKAIT: