"Bahkan untuk tujuan itu, rakyat Indonesia menjual bahkan sesuatu yang paling penting dalam hidupnya. Datang ke Istora lalu berhimpitan dan berdesakan sejak pagi untuk sekadar mendapatkan satu atau dua tiket sejak pagi hingga kadang malam hari. Merekalah pecinta sejati Timnas tanpa harus merasa tampil sebagai pemberi jasa," jelas Ray Rangkuti kepada
Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 25/12).
Elit politik di Indonesia, alih-alih belajar dari sikap satria rakyat Indonesia itu, kini mereka dengan cara murahan berlomba memperlihatkan seolah paling berjasa dalam membangun Timnas. "Itu sesuatu yang mereka kerjakan tanpa keringat dan kesulitan yang dahsyat seperti yang dilakukan para pecinta sepakbola Indonesia," jelas Ray.
Bahkan untuk menonton di Gelola Bung Karno dan Stadion Bukit Jalil pun mereka meminta fasilitas khusus, kalau tidak tiket gratis setidaknya pelayanan mendapatkan tiket secara mudah tanpa keringat. "Itu cara mencintai Timnas secara licik, murahan dan tidak bermoral," tegas dia.
Karena itu, dia mengimbau, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia hendaknya menghentikan cara penjualan tiket dengan mengutamakan pejabat dan para politisi. PSSI hendaknya mendahulukan para pecinta sejati Timnas dari pada melayani para pejabat yg hanya mengerti cara mengklaim kesuksesan.
"Sama seperti penonton yang lain, para pejabat tersebut hendaknya ikut berpeluh serta mengantre untuk mendapatkan tiket. Dengan begitu sepakbola menjadi milik kita bersama tanpa kasta. Lebih dari itu, agar para pejabat dan politisi itu juga merasakan carut marut penjualan tiket. Hentikan politisasi Timnas dan stop fasilitas istimewa untuk mereka," demikian Ray.
[zul]
BERITA TERKAIT: