"Pak Mubarok buat indikasinya dulu. Ini kan sering orang mengatakan reformasi kebablasan, demokrasi kebablasan, tapi kebablasannya di mana, penyebab di mana, tidak jelas," ujar aktivis '98 Ray Rangkuti kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 25/12).
Ray mengakui bahwa secara mikro memang harapan reformasi belum terpenuhi, karena memang masih ada undang undang yang satu dengan yang lain masih bertabarakan. Tapi hal itu terus dilakukan perbaikan. "Ada MK tempat uji materi undang undang yang bertabrakan. Ada juga revisi oleh DPR," jelas Ray.
Dari tataran makro, jelas Ray, reformasi telah berhasil mengubah sistem politik Indonesia. Dia menjelaskan, bahwa setelah reformasi daerah diberi keleluasaan, wewenang Presiden dibatasi, partai politik ditertibkan. "Itu ada semua, sebagai hasil reformasi," jelas Ray.
Justru menurut Ray, Partai Demokrat sebagai partai penguasa lah yang mulai membawa Indonesia kembali ke zaman sebelum reformasi. Hal ini, terangnya, mulai dari konsep gubernur yang diwacanakan pemerintah untuk dipilih kembali oleh DPRD.
"Juga upaya memperkuat pemerintah nasional, melakuan akrobat politik, membentuk koalisi hanya karena Presidennya tidak pede. Padahal itu tidak diatur dalam sistem presidensial. Justru itu menciderai alemen kecil dari reformasi," demikian Ray.
[zul]
BERITA TERKAIT: