Tujuannya agar Buya Syafii tidak lagi kritis terhadap kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo. "Sumber mereka (
Suara Islam) mengatakan sehingga Syafii tidak lagi kritis terhadap Lumpur Lapindo," ujar Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Rija Ul Haq kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 8/12).
Namun yang disayangkan, lanjut Fajar, Suara Islam tidak menkonfirmasi kepada Buya Syafii mengenai hal tersebut. Meski begitu, dalam pemberitaan itu, terang Fajar, Suara Islam mengaku sudah meminta wawancara, tapi Buya Syafii menolak.
"Saya tanya ke Buya apakah ada yang minta wawancara tidak ada. Memang ada wawancara yang ditolak, tapi kalau mau wawancara soal suap-menyuap, pasti tidak ada. Buya tidak pernah dikonfirmasi," tegas mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadyah ini.
Fajar memang mengakui, bahwa setiap berada di Jakarta, Buya Syafii, yang tinggal di Jogjakarta ini
numpang di Apartemen Rasuna di kawasan Jakarta Selatan untuk menginap. Selain tentunya sesekali Buya Syafii menginap di kantor Maarif Institute di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Apartemen tersebut milik tokoh Gerakan Tutup Lapindo, Dedi Julianto.
"Itu bukan milik Buya Syafii. Apartemennya juga tidak sampai harga Rp 2 miliar. Harganya sekitar Rp 450 juta yang dibeli dua tahun lalu," terang dia.
Karena itu, Fajar menegaskan,
Suara Islam keliru dengan mengatakan Buya Syafii tidak kritis lagi terhadap kasus lumpur Lapindo. Buya tetap punya sikap bahwa lumpur Lapindo adalah bencana kemanusiaan, bukan bencana alam. Karena itu, Buya Syafii tetap menuntut agar Ical bertanggung jawab.
[zul]