Saat ditanyakan hal tersebut kepadanya, Roy yang juga kerabat Paku Alam ini menjawab diplomatis.
"Saya tidak ingin memperkeruh suasana. Saya menghormati Pak Sultan sebagai raja saya. Saya menghormati Pak SBY sebagai Presiden saya. Tapi utamanya, saya jauh menghormati masyarakat sebagai konstituten saya," ujarnya kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 6/12),
Pemilik nama asli Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo ini mengaku memiliki sikap yang tegas dan jelas soal RUU Keistimewaan Jogajakrta.
"Saya anggota Komisi I. Jadi tidak langsung berhubungan dengan UU itu. Tapi saya pasti akan mengawal Komisi II. Apalagi disitu ada Agus Purnomo, dari Jogjakarta. Bersama tujuh anggota DPR dan empat DPD dari Jogja, kami akan kawal bersama-sama. Yang paling utama Keistimewaan Jogja harga mati, tapi dalam bingkai NKRI," tegas dia.
Apakah itu artinya anda bersikap seperti pemerintah?"Nggak, tidak bisa diartikan begitu. Salah kalau diartikan begitu. Ini tidak hitam tidak putih. Karena ini solusinya bukan hitam bukan putih. Tidak ada satu pun persoalan di negeri ini yang selesai secara hitam putih," jawab dia.
Karena itu, dia yakin pasti ada solusi yang menggabungkan dua kepentingan Jogjakarta dan Jakarta.
"Semua itu pasti ada solusinya. Kuncinya kearifan lokal masyarakat Jogja inilah yang harus diperhatikan dan bingkai NKRI. Itu jangan ditabrakkan. Semua saya hormati, Pak Sultan, Pak SBY, dan adik Sultan," tandas ahli telematika ini.
[zul]