"Komentar Presiden tentang Jogja momentumnya tidak pas pada saat sebagian rakyat Jawa Tengah dan Jogja terkena musibah yang cukup berat tekanannya. Karena, menurut saya, ini sangat sensitif bagi rakyat Jogja dan elit Jogja. Jadi, menurut saya, tidak tepat," ujar Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 5/12).
Sejalan dengan itu, dia juga menyesalkan respons sebagian masyarakat Jogja yang meminta agar digelar referendum untuk menentukan apakah gubernur dan wakil gubernur Jogja itu langsung ditetapkan atau dipilih secara demokratis.
"Reaksi masyarakat dengan adanya suara-suara referendum berlebihan. Komentar-komentar tentang referendum ini sangat tidak mendidik bagi kokohnya NKRI. Apalagi selama ini Jogja menjadi basis kokohnya NKRI," sesal anggota Komisi I DPR ini.
Dia kuatir, bila referendum digelar di Jogja, nanti daerah-daerah lain juga akan meminta hal yang sama bila ada persoalan yang menyangkut daerahnya masing-masing. Menurutnya, perbedaan pendapat soal hubungan daerah dengan pusat itu biasa. Jadi tidak perlu disikapi berlebihan.
Bukankah yang pertama kali mengusulkan itu Sri Sultan Hamengkubowono sendiri pada September lalu? "Saya tidak tahu usul itu. Tapi menurut saya usul dan komentar referendum soal Jogja tidak pas," katanya lagi.
[zul]