Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 29/11).
Saleh melihat praktik penyiksaan dan penganiyaan kepada TKW yang berada di Arab Saudi, karena adanya salah pengertian penggunaan TKW oleh majikan Arab Saudi. "TKW di Negera Arab itu, seolah-oleh dianggap seperti budak yang bisa dieksploitasi melebihi tugas mereka sebagai TKW, termasuk di dalamnya memenuhi kebutuhan seksualitas. Itu kan salah total," tegas Saleh.
Kedua, lanjut Saleh, budaya dan tradisi Arab Saudi sangat berbeda dengan budaya dan tradisi dalam negeri ini. Implikasi perbedaan itu sangat fatal kalau TKW tidak memahaminya. Apalagi, bahasa Arab termasuk bahasa yang sukar dipelajari. "Karena itu mengirim TKW cenderung seperti memasukkan orang ke hutan rimba," katanya menjelaskan.
Selain itu juga, pemerintah secara nyata telah gagal melindungi TKW yang berada di Arab Saudi. Hal ini karena adanya perbedaan hukum antara Indonesia dan Arab Saudi. Dia yakin, meski pemerintah mengirim banyak pengacara ke Arab Saudi untuk membela TKW, seperti Kikim dan Sumiati, majikan itu tidak akan di-
qishash.Karena itu menurutnya, bila pemerintah gagal membuka lapangan pekerjaan di Indonesia, sebaiknya TKW Indonesia dikirim ke Eropa atau negara Asia lainnya yang lebih ramah terhadap TKW, seperti Hongkong. "Tapi ini khusus kepada TKW, kalau tenaga kerja yang laki-laki nggak apa-apa," imbuhnya.
Khusus kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dia meminta untuk tidak sekadar berwacana melindungi TKW. Apalagi, saat ini isu TKW ini sudah semakin redup. "Makanya yang penting pemerintah harus mendata semua TKW yang bermasalah dan tidak bermasalah. Semuanya harus segera dipulangkan, sebelum ada masalah baru," tegas Saleh.
[zul]
BERITA TERKAIT: