Hal itu dikatakan Presidium IPW Neta S Pane kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 9/11).
Namun pada Jumat siang, sambung Neta, Polri panik. Karena pada saat Polri kehilangan jejak Gayus. Tak pelak, selama Jumat malam sampai Sabtu pagi, Polri sibuk berkoordinasi dengan pihak imigrasi dan meminta Gayus untuk dicegah keluar negeri.
"Empat sketsa Gayus dengan berbagai versi diserahkan Polri ke imigrasi. 3 pejabat Polri intensif koordinasi dengan imigrasi Bandara Soetta (Soekarno Hatta) sampai Sabtu pagi agar menangkal Gayus ke luar negeri," terangnya.
Neta menambahkan, permintaan polri kepada Imigrasi untuk mencegah Gayus tidak resmi. Karena permintaan cegah hanya melalui sambungan telepon. Hal ini dimaksudkan agar Polri tidak kalah dengan cepat Gayus.
"Posisi Gayus diketahui Minggu pagi dan langsung dibawa ke rutan Brimob. IPW mendesak agar kasus ini dituntaskan dengan transparan," kata Neta menambahkan.
Hasil penelusuran IPW ini berbeda dengan keterangan yang disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Iskadar Hasan. Kemarin Iskandar menjelaskan, bahwa Gayus keluar pada Jumat. Namun berhubung tidak juga kembali hingga malamnya, yang semestinya batas ijin sampai sore, Polri lalu mencari dan menemukan pada malam hari.
Apakah itu berarti Polri telah berbohong? "Itu terserah penilaian masyarakat lah," jawabnya.
[zul]