Penasihat KPK: Kasus Bibit Chandra Berlarut-larut karena Penguasa Tak Tegas

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Kamis, 28 Oktober 2010, 09:50 WIB
Penasihat KPK: Kasus Bibit Chandra Berlarut-larut karena Penguasa Tak Tegas
Abdullah Hehamahua/ist
RMOL. Penanganan Kasus pemerasan dan penyalahgunaan wewenang dua pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah sampai saat ini belum berakhir. Persoalan ini sampai berlarut-larut dituding karena ketidaktegasan penguasa menyikapi kasus tersebut.

"Karena penguasa negera ini tidak tegas. Jadi, ya aparat penegak hukum juga jadi tidak tegas," ujar penasihat KPK Abdullah Hehamahua kepada Rakyat Merdeka Online.

Dia menerangkan, sebenarnya sejak awal, saat kasus ini baru masuk ke Mabes Polri, KPK dan termasuk dirinya, sudah menjelaskan di berbagai forum bahwa kasus yang disangkakan kepada pimpinan KPK itu tidak betul. Makanya, dia mendesak agar kasus itu di-SP3-kan.

"Harus di-SP3-kan. Kapolri itu kan bawahan Presiden. Jaksa Agung juga. Dia memang tidak boleh intervensi dalam soal penegakan hukum. Tapi dalam soal administrasi pengelolaan negara, dan kebijakan, dia boleh (intervensi). Asal bahwa betul-betul tidak terbukti. Maka dia bisa minta di-SP3-kan," jelasnya.

Namun, dia menyesalkan, kasus itu dibiarkan, hingga akhirnya masyarakat menggelar demonstrasi menuntut kasus tersebut dihentikan. Pemerintah akhirnya takut dan lalu turun tangan. Tapi sialnya, Kejaksaan Agung mengelaurkan SKPP berdasarkan alasan sosiologis. Padahal alasan sosiologis tidak diatur.

"Saya tidak tahu apakah dia (Presiden SBY) mendengar atau tidak. Tapi kan dia punya alat seperti BIN atau orang yang menyampaikan ke dia kronologis persoalan KPK sebenarnya adalah seperti itu (tidak ada alat bukti)," jelasnya.

"Kalau dia punya sikap baik, mengerti dan informasi itu betul masuk ke dia, tentu dia akan beri tahu kepada Polri (kasus) ini tidak memenuhi syarat. Harus di-SP3-kan. Tapi apakah ada orang di sekitar dia yang ingin merusak citra dia atau ingin mengadu domba dia dengan KPK, wallahu alam," tambahnya.[zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA