Penilaian itu disampaikan presidium Indonesian Police Watch, Neta S Pane terkait tudingan Didi kemarin, bahwa kelompok yang menolak Komjen Timur Pradopo sebagai calon Kapolri sebelum fit and proper test digelar, menyimpan agenda terselubung dan ditunggangi kelompok tertentu.
"Tudingan itu menunjukkan anggota DPR tersebut tidak peka dan tidak cermat dalam mnilai track record calon yang akan diujinya. Tudingan itu menunjukkan yang bersangkutan bermental orba. Seharusnya yang bersangkutan cek ke Komnas HAM tentang calon yang akan diujinya dan jangan arogan seperti SBY yang mengkarbit calon Kapolri," ujar Neta kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 7/10).
IPW tetap mengimbau partai-partai yang mengaku Reformis agar bersatu menolak dan mengembalikan Timur Pradopo ke presiden. Sebab dalam kasus tragedi Trisakti tahun 1998, Timur melakukan pelecehan hukum. Timur berkali-kali dipanggil Komnas Ham tapi tidak pernah datang.
"Bagaimana mungkin seseorang yang sudah melakukan pelecehan hukum akan memimpin lembaga penegakan hukum (Polri). Bagaimana mungkin reformasi hukum dan penegakan supremasi hukum dapat dilakukan figur yang telah melakukan pelecehan hukum," ungkapnya mempertanyakan.
Makanya, IPW sangat menyesalkan sikap Presiden SBY yang tidak selektif dan mengabaikan penilaian Komnas HAM dengan mencalonkan figur Komjen Timur sebagai calon Kapolri yang sudah jelas melakukan pelecehan hukum.
[zul]
BERITA TERKAIT: