Lihatlah, satu persatu kekuatan itu sudah mulai lepas dari genggaman Jokowi. Peraturan KPU yang melarang ijazah dibuka, ternyata KPU sendiri yang membatalkan.
Bahkan, putusan Komisi Informasi Publik (KIP) jelas sekali menegaskan bahwa ijazah pencalonan seseorang adalah dokumen publik, bukan dokumen pribadi yang tak boleh untuk diminta. Termasuk, pengadilan yang biasanya menolak gugatan tentang ijazah Jokowi. Kini, malah berlangsung di Solo.
Maka bisa dimaklumi saat Bareskrim menyimpulkan ijazah Jokowi identik, posisi ijazah yang ditampilkan justru seperti sengaja dilipat, bukan yang lurus dan bersih, supaya memang tak terlalu jelas. Itupun yang ditampilkan yang fotokopi bukan sekalian yang asli.
Setelah menyimpulkan ijazah Jokowi identik, Bareskrim langsung menutup laporan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) dan ditindaklanjuti Polda Metro Jaya dengan penyelidikan dan penetapan tersangka Roy Suryo cs. Inilah yang disimpulkan Refly Harun sebagai kriminalisasi dalam kasus ini sejak awal.
Karena, ijazah Jokowi belum dibuktikan keasliannya secara sah, tapi pentersangkaan sudah dilakukan seolah ijazah itu sudah dipastikan asli. Ini juga terlihat dari penetapan pasal-pasalnya. Pembuat UU ITE Hendry Subianto, merasa terpanggil untuk meluruskannya.
Maka Refly Harun sama sekai tak percaya kalau berkas Roy Suryo sampai di pengadilan, ijazah Jokowi akan dibuktikan keasliannya seperti dikatakan Mahfud MD.
Paling hanya ditunjukkan seperti dalam gelar perkara, dan kliennya akan disidangkan dengan pasal-pasal itu.
Tapi, dengan tak secepat penanganan seperti dialami Bambang Tri dan Gus Nur dulunya, ini juga bukti jauh berkurangnya kekuatan Jokowi.
Apalagi sorotan yang tak pernah lepas sedikitpun dari media. Ada saja sedikit perkembangan, apalagi kejanggalan, langsung disorot.
Pengakuan Rektor UGM, hasil survei yang menjulang tinggi bahwa orang percaya ijazah Jokowi asli, itu tak sedikitpun menyurutkan rasa ingin tahu orang apa yang terjadi sebenarnya.
Ijazah pembanding lain keluar, di samping teman-teman Jokowi. Intinya, tak begitu klop.
Memang, SP3 yang diterima Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis bisa menunjukkan kekuatan Jokowi masih kuat, tapi efek dominonya, pengamat netral awalnya cenderung membela ijazah Jokowi seperti berbalik. Dia tak habis pikir, kenapa SP3 itu bisa terbit begitu mudah?
Meski perlu uji kertas, tinta, dan lain sebagainya, entah kenapa orang punya pertanyaan yang sama bahwa apa benar foto dalam ijazah itu adalah Jokowi?
Ini seperti cocok dengan seloroh Rocky Gerung sejak awal, bahwa ijazahnya asli, tapi orangnya tidak. Hebat juga Rocky, ya.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: