Penyair, Gerakan Mahasiswa, Pers dan Sang Komedian

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/jimmy-h-siahaan-5'>JIMMY H SIAHAAN</a>
OLEH: JIMMY H SIAHAAN
  • Senin, 19 Januari 2026, 06:26 WIB
Penyair, Gerakan Mahasiswa, Pers dan Sang Komedian
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan unjuk rasa menentang NKK/BKK di depan Gelora Mahasiswa UGM, Yogyakarta, 1980 (Foto: BBC/Tempo)
PENYAIR WS Rendra dijuluki Si Burung Merak. Membaca sebuah puisi, dengan judul "Sajak Pertemuan Mahasiswa", tanggal 1 Desember 1977, di Salemba, Kampus Universitas Indonesia.

Kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan?

Di bawah matahari ini kita bertanya: Ada yang habis, ada yang mengikis. Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!

Puisi ini diwarnai dengan serangkaian pertanyaan yang menggugah pikiran, seperti "Kenapa maksud baik tidak selalu berguna" dan "Maksud baik untuk siapa?" 

Melalui "Sajak Pertemuan Mahasiswa", W.S. Rendra mengajak pembaca untuk merenung tentang perjuangan, keadilan, dan makna kebaikan dalam masyarakat. Puisi ini menggambarkan kompleksitas realitas sosial dan moral yang dihadapi oleh individu, terutama mahasiswa, dan menantang mereka untuk terus bertanya, berpikir, dan bertindak untuk perubahan yang lebih baik.

Sajak Anak Muda (Karya W.S. Rendra)

Sajak Anak Muda Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur. Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan. Karena tidak diajarkan berpolitik.

Tahun 1978 adalah masa Orde Baru yang represif, di mana Rendra sering mengkritik ketidakadilan, kemiskinan, dan korupsi, seperti dalam puisinya yang menggugah kesadaran.

"Sebatang Lisong" (1978): Meskipun ditulis di Bandung, puisi ini sering dibacakan dan menggema di Yogyakarta, menyoroti realitas pendidikan yang buruk ("delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan").

Lahirnya Gerakan Mahasiwa 1977/1978

Ternyata sejak Rendra membaca puisi di hadapan para mahasiswa memberikan inspirasi dan semangat baru. 

Sebelumnya pada tahun 1973, di Unpad, pernah ada pentas drama yang luar biasa, bertema "Mastodon Burung Kondor."

Selanjutnya, ada Pertemuan mahasiswa, di tahun 1977 pada hingga awal 1978 adalah bagian dari gerakan politik besar menentang Orde Baru, dengan klimaks di awal tahun dan berlanjut sepanjang tahun, termasuk Oktober, menuntut reformasi dan berakhirnya kekuasaan Soeharto.

Penangkapan mahasiswa 20 Januari 1978 adalah bagian dari penumpasan gerakan mahasiswa oleh Orde Baru yang menolak Sidang Umum MPR dan kebijakan NKK/BKK, di mana rencana aksi mahasiswa bocor dan aparat melakukan penangkapan besar-besaran serta membekukan Dewan Mahasiswa keesokan harinya (21 Januari 1978), menandai era kelam pembungkaman gerakan kampus. 

Kebijakan NKK/BKK: Pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) pada 1977-1978 untuk membungkam aktivitas politik mahasiswa di kampus.

Menjelang Sidang Umum MPR 1978, mahasiswa menolak pertanggungjawaban Presiden Soeharto dan kebijakan pemerintah, yang diwujudkan dalam aksi-aksi protes. 

Peristiwa 20 Januari 1978

Mahasiswa merencanakan aksi besar, namun rencana tersebut bocor ke aparat keamanan.

Aparat melakukan penangkapan besar-besaran terhadap pimpinan dan aktivis mahasiswa, mencegah aksi tersebut berlangsung. 

Di Jakarta, "Kampus Kuning" adalah lokasi penahanan, dalam kompleks militer di Bekasi. Penangkapan dan pendudukan Kampus di Bandung, Jogja, Surabaya, Medan.

Pemerintah secara resmi membekukan Dewan Mahasiswa sejak 21 Januari 1978, mengakhiri organisasi mahasiswa otonom.

Peristiwa ini merupakan salah satu bagian dari penekanan terhadap kebebasan akademik dan politik di lingkungan kampus pada era Orde Baru, memicu protes lanjutan dan bahkan pembredelan pers sebanyak 7 harian besar.

Tentara duduki kampus ITB hingga larangan "buku Putih" dan penangkapan pimpinan mahasiswa. Peristiwa tahun 70an  tetap berlanjut hingga akhir 90an. Semua ini menggambarkan bahwa setiap generasi memiliki andil dalam gerakan.

Di akhir 90an lahirnya sebuah orde reformasi. Demokrasi mulai berperan sebagai perubahan hingga saat ini.

Sang Komedian

Belum lama ini juga ada lakon satire komedian yang menjadi viral dikalangan mahasiswa dan pemuda,dengan judul "Mens Rea."

Mens Rea adalah rangkaian pertunjukan lawakan tunggal langsung oleh pelawak tunggal Indonesia Pandji Pragiwaksono sepanjang tahun 2025. 

Tur ini menjadi tur lawakan tunggal kesepuluh Pandji setelah Komoidoumenoi pada 2022 lalu. Digelar di sebelas kota, pertunjukan pamungkas Pandji di Arena Indonesia, Jakarta, pada 30 Agustus 2025 dijadikan sebuah film pertunjukan spesial dan didistribusikan di Netflix pada 27 Desember 2025

Di tengah badai politik awal 2026, narasi “brutalitas” Prabowo Subianto semakin digencarkan melalui medium yang tak terduga: stand-up comedy. Spesial Netflix Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono, yang tayang akhir Desember 2025, menjadi sorotan utama. Pandji roasting Prabowo secara terbuka, menyebutnya sebagai “penculik aktivis” era Reformasi 1998 tanpa tedeng aling-aling. 

Acara ini langsung viral: jutaan penonton, ribuan klip beredar di Instagram dan TikTok, dipuji sebagai “komedi cerdas tanpa sensor”.  

Paradoksnya, di era demokrasi digital, humor justru menjadi senjata soft coup: manipulasi opini tanpa tembakan, tapi efektif menggerus legitimasi seorang presiden.

Namun, tayangan tanpa sensor di platform global membuat narasi ini menyebar luas. Klip-klip pendek di medsos meraup jutaan views, netizen ramai bilang “terwakilkan” atau “akhirnya hilang respect ke Prabowo”.

Kritik utama: Ini bukan komedi murni, melainkan roasting yang terasa “by design”. Pandji, dengan jutaan followers dan pengaruh besar, menggunakan humor hiperbolik untuk membangkitkan trauma sejarah. Timing-nya sangat pas: tayang saat kritik terhadap penanganan bencana Sumatra dan insiden Aceh sedang memuncak, sehingga narasi “Prabowo represif seperti Soeharto” semakin menguat.

Generasi muda penonton utama Netflix bisa saja terpengaruh isu lama yang dikemas ulang, tanpa bukti baru.

Paradoks Kebebasan dan Senjata Politik

Namun, ada segmen lain yang justru men-downgrade Gibran Rakabuming Raka habis-habisan: disebutnya “plonga-plongo”, jadi wapres karena “dipilihkan”, dan diolok-olok karena “nggak paham apa yang dia omongin sendiri”. Roasting Gibran lebih mengundang “ketawa getir” banyak yang bilang “berani, tapi bener juga sih”.

Ini bukti bahwa demokrasi masih bernapas, meskipun sesak. Pandji roasting presiden dan wapres secara terbuka, tayang global, viral jutaan views dan pemerintah diam saja. Narasi “Orba jilid 2” yang digencarkan lewat insiden Aceh dan kematian tahanan belum sepenuhnya terbukti di ranah kebebasan berpendapat.

Sementara ini, keterbukaan masih ada meski rapuh. Gunakan selagi bisa: kritik, roasting, tertawa. Tapi tetap awas, karena jebakan brutalitas selalu mengintai di balik tawa.

Tetaplah kritis di tengah terpaan propaganda dan agitasi. Sebuah kutipan catatan dari Malika Dwi Ana, 3 Januari 2025.

Dari perjalanan Gerakan Mahasiswa sebelumnya yang terinspirasi dari Penyair, Komedian, Pers akankah lahir sebuah gerakan pembaharuan? Semoga Demokrasi masih memiliki napas panjang. rmol news logo article

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA