Bukan hanya butuh berbahasa daerah di tingkat lokal kedaerahan, berbahasa Indonesia di tingkat nasional, melainkan dibutuhkan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Jerman. Sekalipun mesin robot translator sudah banyak tersedia dalam zaman digital, namun kebutuhan berbahasa asing secara aktif tidak kunjung tertemukan terdiffusi dalam produk inovasi.
Fenomena ini menambah kerumitan persoalan kegagalan teknik bersosialisasi saling ajar-mengajarkan diantara mereka yang tumbuh melesat secepat meteor dengan mereka yang tertinggal, terisolasi, dan terbelakang. Sebuah kesenjangan yang semakin serius diantara mereka yang bertulang sumsum lebih kuat dibandingkan mereka yang kekurangan nutrisi, akal, dan kreativitas.
Lupa kepada ilmu ekonomi regional yang mampu menjelaskan titik-titik pertumbuhan ekonomi di daerah berbentuk spiral yang tumbuh melingkar-lingkar. Pusat-pusat pertumbuhan tersebut semula sangat menguntungkan, karena terasa lebih murah. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya pertumbuhan properti di daerah yang semula sebagai Kepala Naga dari pusat perdagangan, perkantoran, dan hunian telah berpindah oleh pertumbuhan pusat-pusat pertumbuhan alternatif di sekitarnya yang baru.
Pembukaan kota dan desa yang baru bergantung dari Dogol. Dogol merupakan urban, atau migran dari daerah lain yang berhasil membuka dan menumbuhkembangkan hutan, desa kecil, atau kota kecil sepi untuk ditumbuhan sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Ratusan tahun terjadi pertumbuhan ekonomi regional seperti itu.
Kemudian kegagalan dalam berkomunikasi antar bahasa dan antar pergaulan etnis telah menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi yang semakin parah. Kritik Delapan Jalur Pemerataan Plus terhadap perluasan Trilogi Pembangunan itu gagal digantikan oleh metode pro-growth, pro-jobs, pro-poor, dan pro-sustainability pembangunan nasional. Juga terkesan masih gagal dientaskan secara cepat menggunakan metode program Revolusi Mental Nawa Cita, Kedaulatan, dan Kemandirian Ekonomi.
Ketidakpuasan itu menimbulkan permintaan Sidang Istimewa untuk kembali pada UUD 1945. Juga permintaan memberhentikan Presiden dan Wapres yang sah terpilih berdasarkan kesepakatan konstitusi. Tafsir makar bermula di sini. Juga permintaan Referendum Kemerdekaan dari Kabupaten Jayawijaya. Semua itu bermula dari kesulitan dalam memahami pertumbuhan ekonomi regional yang berbentuk spiral di atas. Spesialisasi membangun kota-kota baru pesat yang berkembang mengikuti lompatan katak, itu kemudian ditafsirkan sebagai invasi pencaplokan etnis dan bangsa lain.
[***]Sugiyono MadelanPeneliti INDEF dan Dosen Universitas Mercu Buana.