Negara Tak Boleh Abai atas Persoalan Pengusaha

Kamis, 09 Juli 2015, 03:23 WIB
<i>Negara Tak Boleh Abai atas Persoalan Pengusaha</i>
Irwan Hidayat/net
SETELAH digagas hampir satu dekade lalu oleh para pemimpin ASEAN pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)  akan segera diberlakukan akhir tahun ini. MEA  diharapkan bisa meningkatkan daya saing negara-negara di  ASEAN  dengan Cina dan India untuk menarik investasi asing.  Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. MEA akan memberi jalan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Faktanya, pasar tunggal ASEAN ini akan menjadi masa depan yang menggiurkan karena secara potensi, ASEAN memiliki kelebihan yang luar biasa. Pertama, ASEAN memiliki 600 juta penduduk. ASEAN juga memiliki keragaman yang luar biasa dengan kota megapolitannya seperti Singapura, Jakarta, Kuala Lumpur, karena penduduknya relative cukup kaya. Di sisi lain, ASEAN juga memiliki Vietnam, Myanmar dan Laos yang terus tumbuh secara progresif. Rentang  yang begitu beragam membuat pasar menjadi lebih luas, bukan hanya sekedar besar jumlahnya tetapi juga punya keleluasaan produk yang bisa dijual. Bahasa sederhananya, di ASEAN, kita  bisa jual barang luxury (mewah) hingga sabun colek karena pasarnya yang begitu luas.

Pasar ASEAN juga sangat menarik karena menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua setelah Tiongkok. Dengan demikian, demand juga besar, ditambah lagi ASEAN menjadi basis produksi yang baik. Dengan kondisi Tiongkok yang sedang mengalami masalah buruh dan upah, maka ASEAN bisa menjadi basis investasi dan produksi. Dengan kondisi tersebut, penulis yakin bahwa ASEAN punya kelebihan dibandingkan dengan kawasan lain. Idealisme dari MEA adalah bukan hanya sekedar trading antarnegara tetapi bagaimana membuat ASEAN menjadi basis produksi untuk supply pasar dunia.

Di tengah keraguan banyak pihak menyambut kedatangan era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, penulis yang juga praktisi bisnis secara pribadi menabur lebih besar optimisme ketimbang sikap pesimitis. Era ini tak mungkin kita hindari. Seberapun kita belum siap, era ini akan menghampiri masyarakat di kawasan regional ini. Oleh karenanya, kerja keras dan dukungan pemerintah menjadi solusi paling tepat menghadapi era  MEA. Mau optimis ataupun pesimis, era itu pasti akan datang! Ini adalah suatu keniscayaan yang tak bisa kita cegah.

Indonesia adalah yang paling lengkap. Tuhan memberi segalanya di bumi pertiwi. Faktanya adalah,  ekonomi Indonesia di kawasan ini yang terbesar, penduduknya sangat banyak, GDP juga paling tinggi. Di sisi lain, Indonesia memiliki keragaman yang sangat tinggi. Hal itu tentu akan membuat pasar Indonesia menjadi kian mempesona dan menarik. Dari sisi suplai dan produksi, Indonesia mempunyai sumber daya alam, kemampuan buruh, investasi yang pesat dan basis produksi. Selain itu Indonesia juga mempunyai kemapanan secara sosial politik dan negara demokrasi yang besar.

Di luar itu penulis ingin berbagi pemikiran melalui tulisan ini dan mengharapkan lebih besar dukungan dan komitmen kuat pemerintah sekarang bagi pelaku usaha untuk menghadapi tantangan MEA. Semua jajaran pemerintah dari pusat sampai daerah harus solid memberikan semua dukungan yang diperlukan, karena tak mungkin menghadapi era itu sendiri-sendiri. Bersatu kita teguh-menjadi kata mutiara yang benar adanya dan diperlukan menghadapi situasi ini.

Kesempatan Emas

MEA adalah kesempatan emas untuk bangsa ini, tentu dengan menambahkan semua prasyarat harus dipenuhi. Jangan lupa, pasar kita sangat besar, memiliki penduduk yang memiliki komitmen kerja keras dan kreatif. Kini tinggal pemerintah yang harus bekerja keras menstimulasi semua potensi ini untuk mendayagunakan semua modal gemilang menjadi senjata menghadapi era MEA.

Penulis selaku pelaku bisnis perlu berbagi pengalaman yang mudah-mudahan bisa dijadikan bahan renungan publik sekaligus evaluasi kepada jalannya aparatur pemerintahan. Pengalaman mendapatkan pengaduan dari masyarakat adalah hal yang tak biasa dialami perusahaan yang penulis kelola karena perusahaan dituduh mencemari sungai yang berada di tengah masyarakat wilayah pabrik. Sebagai seorang pengusaha yang tumbuh dari nol, penulis sangat menyadari peran masyarakat sekitar sangat penting bagi keberlangsungan sebuah usaha. Oleh karena itu, sedari awal penulis menginginkan perusahaan jamu yang didirikan sejak tahun 1951 dan kini menjadi produk kebanggaan bangsa  ini berkembang menjadi perusahaan yang tak hanya bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat namun memberikan manfaat bagi keberlangsungan lingkungan. Lingkungan yang baik menjadi perhatian perusahaan kami, Perusahaan memproses semua limbah cair dan padat. Limbah cair kami olah sehingga memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan limbah padat, kami proses menjadi wood pellet dan digunakan sebagai bahan bakar untuk produksi. Sehingga tekad menjadi perusahaan ramah lingkungan bukan basa-basi.

Komitmen itu sudah dijalankan dengan membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang berstandar baik. Sayangnya itu belum cukup. Dalam pengaduan masyarakat itu, tanpa melalui cross check isu itu diblow up yang membuat citra PT SidoMuncul sebagai perusahaan yang telah melakukan kegiatan bisnis lintas Negara menjadi terganggu. Banyak agen besar di luar negeri mempertanyakan komitmen PT SidoMuncul pada kelestarian lingkungan, sebuah hal yang menjadi isu sangat sensitif di dunia internasional. Kerja keras membangun citra PT SidoMuncul menjadi  brand internasional sangat terganggu dengan situasi ini.

Terlibat Lebih Besar

Belajar dari hal itu, penulis mengharapkan negara dapat terlibat lebih besar untuk melindungi pelaku usaha yang tidak hanya menguntungkan negara karena menyumbang pendapatan pajak dan juga menyerap banyak tenaga kerja namun juga telah menjalankan usahanya dengan baik dan bertanggungjawab. Pernyataan ini tentu sama artinya dengan negara juga mesti bertindak tegas menindak pelaku usaha yang curang dan menimbulkan kerugian pada masyarakat.

Dalam kasus yang terjadi di perusahaan kami, pemerintah melalui kepanjangan tangan dalam hal ini  melalui instansi terkait , semestinya bisa mengambil langkah-langkah yang tepat melokalisir isu sehingga semua menjadi jelas agar pihak-pihak yang memang bersalah bisa dihukum sementara pihak yang benar tidak dirugikan. Faktanya setelah dilakukan pemeriksaan terbukti kalau sungai tercemar akibat  akivitas salah satu perusahaan lain yang tidak bertanggung jawab dan bukan dilakukan oleh SidoMuncul.

Pelajaran dari kasus ini, bahwa Negara (pemerintah) dengan semua jajarannya harus memiliki komitmen yang lebih besar untuk melindungi perusahaan-perusahaan yang memiliki donasi besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi bangsa. Negara tak boleh abai, karena kita akan berhadapan dengan tantangan yang lebih besar di masa depan berupa persaingan nir batas di ASEAN. Kalau boleh, penulis akan mengutip satu pernyataan Pak Chairul Tandjung, mantan Menko Perekonomian dan founders kelompok bisnis CT Corp yang mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab tidak hanya mengeluarkan izin namun sekaligus mengawal izin itu agar tak disalahgunakan termasuk didalamnya memastikan tak adanya gangguan-gangguan pada aktivitas pengusaha yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Ini penulis maksudkan adalah  poin utama yang bisa disumbangkan yakni, pemerintah harus memberikan komitmen penuh dan hadir dalam setiap napas kehidupan warganya termasuk pengusaha didalamnya, karena itu bisa menjadi kunci untuk memenangkan persaingan. Penulis masih yakin niat baik itu. [***]

Irwan Hidayat, Ceo PT SidoMuncul

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA