Saking maraknya liputan perisitwa itu dan menjadi perhatian publik, polisi pun bekerja dengan maksimal menyelidikinya. Tak lama kemudian polisi berhasil menangkap pelaku pembunuhan itu. Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan menjelaskan pembunuh adalah pria berinisial MPS. MPS bekerja sebagai guru bimbingan belajar. Pelaku ditangkap karena hal sepele yakni karena tersinggung dengan ejekan Deudeuh saat sedang melayani pelaku.
"Tersangka (MPS) datang ke tempat korban untuk kencan semalam. Saat bersetubuh, korban nyeletuk bahwa tersangka MPS bau badan. Tidak terima maka MPS mencekik korban,†sambungnya.
Fakta menarik yang terungkap dari penyelidikan polisi, bahwa korban adalah penjaja cinta yang mengiklankan dirinya" melalui twitter. Korban sendiri rajin memposting foto dirinya di twitter.
Apa yang menarik dari peristiwa pembunuhan itu? Sebagai sebuah peristiwa kriminal, itu adalah kejadian yang biasa saja karena tiap hari ada banyak peristiwa pembunuhan di sekeliling kita. Dengan menggunakan patokan news value, yakni significance, mempengaruhi kehidupan orang banyak, kayanya tidak ada. Magnitude kejadian itu tidak menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak. Aktualitas peristiwa itu, oke bisa masuk. Unsur proximity, ini relative karena hanya orang yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan yang dekat dan tahu lokasi kejadian perkara. Unsur prominence, tidak tercapai karena korban tidak dikenal sebagai ‘seseorang’. Begitu juga dengan unsur human interest, yang tidak tanpak dari rangkaian peristiwa tersebut.
Dalam kurun waktu itu, kebetulan ‘sepi berita’ sebuah istilah yang merujuk tidak adanya peristiwa yang cukup besar menyita perhatian masyarakat. Sehingga, peristiwa kriminal yang biasa saja kemudian digoreng†seolah-olah menjadi berita besar yang perlu dikonsumsi pemirsa.
Pertama: peristiwa itu diberitakan berulang-ulang oleh media online. Berbagai berita ditambahkan bumbu yang menyedapkan, yakni bahwa wanita itu relative masih muda berumur 26 tahun. Dilihat dari perspektif lelaki, dari foto-foto yang beredar tampak korban semasa hidup kelihatan cantik- saya yakin dipermak dengan bantuan software foto gadget. Kedua, lokasi kejadian berada di kamar kost di sebuah jalan yang dikenal oleh para lelaki gaul sebagai tempat wanita-wanita cantik menjajakan diri. Ketiga, adanya fakta bahwa korban pelaku prostitusi yang menjual kemolekan tubuhnya via media sosial, twitter.
Ramainya berita pembunuhan itu di media online, membuat media televisi tidak bisa mengabaikan newspeg yang berkembang. Suka atau tidak suka, media online mempengaruhi jurnalis televisi mencari dan memproduksi sebuah produk jurnalistik. Prinsip dasarnya, apa yang sedang hits di media online ‘diperkirakan†memiliki daya tarik yang sama bila ditayangkan di media televisi. Media online adalah sumber berita dan media televisi memberikan konfirmasi informasi tersebut memang layak diberitakan.
Beberapa stasiun televisi memberitakan peristiwa kriminal itu, apa adanya. Data yang disampaikan dalam body berita, seperti apa yang muncul di beberapa media lainnya. Tidak terlihat upaya untuk mencari dan mengungkapkan fakta-fakta baru, yang memiliki nilai berita terkini. Ada juga stasiun televisi yang mengembangkan peristiwa itu menjadi liputan yang lebih mendalam, menggali berbagai macam narasumber untuk melengkapi bangunan peristiwanya.
Dalam persoalan ini, layak dan tidak layak tayang di televisi bukan hanya informasi peristiwa kriminal saja tapi digali dengan lebih dalam untuk menjawab pertanyaan why dan how dalam rumusan dasar jurnalistik 5W+1H. Memberikan konteks peristiwa kriminal biasa dan menjadikannya lebih menarik adalah sangat diperlukan oleh memberikan informasi yang lengkap kepada pemirsanya. Dalam cakupan yang luas, misalnya persoalannya tetap bertumpu pada latar belakang peristiwa, kemudian melihat menyelidiki fenomena prostitusi dengan menggunakan media sosial. Ini pilihan angle yang lebih cerdas, sebab menantang jurnalis menyelidiki lebih jauh ada fenomana apa dibalik sebuah peristiwa yang biasa-biasa saja.â€
Sementara ada stasiun televisi yang berupaya hanya berfokus pada korbannya, dengan menggali latar belakang pribadi, keluarga, kawan kost, cara booking layanan seks, harga layanan prostitusinya dan tempat kost yang lokasinya dijuluki sebagai the vagina streetâ€. Bahkan ada stasiun televise yang lebih mendalam, dengan menghadirkan pekerja seks komersial dalam wawancara khusus dengan mengorek peristiwa di atas ranjangnyaâ€.
Pertanyaan yang kemudian timbul, apakah pentingnya informasi tersebut bagi penonton televisi? Jika unsur-unsur newsworthy tidak kuat, maka memilih angle seperti itu bukan saja tidak penting bagi publik tapi hanya menontolkan sensasi. Berita lanjutan yang kental dengan bumbu-bumbu VHS- violence horror sex memang menarik perhatian penonton, tapi itu berita yang tidak bermutu karena mengekploitasi selera rendah manusia.
Hendrata Yudha
Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia