Melalui akun Facebook pribadinya yang dikutip Jumat 25 September 2026, Pasek menulis pandangannya dengan judul “Menggoyang Gibran, Siapkan Suksesi”.
Pasek mengatakan, saat proses pencalonan Pilpres 2024, Prabowo Subianto sampai empat kali membujuk Gibran agar mau menjadi cawapresnya dengan harapan elektoral dari nama besar Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Namun kini, kata Pasek, setelah Gibran resmi menjadi Wapres lalu diserang balik soal ijasah sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK), terkesan tidak mendapat perhatian serius dari kubu Prabowo.
"Seharusnya tim pemenangan Prabowo-Gibran totalitas ikut "berperang" melawan serangan ini. Bukan malah jadi penonton dan menikmati kekuasaan sambil membiarkan pencalonan Wapres dibiarkan diobok-obok," kata Pasek.
Lebih jauh, Pasek mengibaratkan kekuasaan sebagai “kue” yang dinikmati setelah proses panjang untuk mendapatkannya. Ia menilai kesetiaan dan solidaritas politik sering kali berubah ketika kekuasaan sudah berada di tangan.
“Ketika kue sudah tersaji, lupa bagaimana bahan-bahan itu dikumpulkan dan dimasak bersama untuk dinikmati,” tulis Pasek.
Bahkan, kata Pasek, manuver tebar pesona telah diproduksi para calon pengganti dengan berbagai kemasan. Opini penjatuhan Wapres terus diproduksi tetapi perlawanan tidak berjalan secara maksimal.
"Kalau mau dilihat secara kasat mata sebenarnya sangat terlihat dari kutub mana permainan ini dijalankan," kata Pasek.
Meski demikian, dalam tulisannya Pasek tidak menyebut secara terbuka siapa pihak yang dimaksud sebagai calon pengganti Gibran maupun siapa yang menurutnya berada di balik manuver tersebut.
Ia hanya menyebut bahwa jika latar belakang para tokoh yang bergerak dalam isu tersebut ditelusuri, menurutnya akan terlihat dari mana permainan politik itu berasal.
"Kalau saya sih hafal," pungkas Pasek.
BERITA TERKAIT: