Penilaian tersebut disampaikan oleh Koordinator Gerakan Indonesia Cerah (GIC), Febri Wahyuni Sabran. Ia memandang gestur spiritual dan nasionalis Kapolri memuat pesan moral yang mendalam bagi para pemimpin masa kini.
"Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alurnya, tetapi bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo," ujar Febri Wahyuni Sabran dalam keterangan tertulisnya, Senin, 22 Juni 2026.
Febri menekankan, penghormatan terhadap sejarah dan tokoh bangsa harus menjadi bagian integral dari karakter seorang pemimpin, bukan sekadar pemanis atau pencitraan semata.
Setiap tokoh yang dikunjungi Kapolri, mulai dari Bung Karno, Pak Harto, hingga Gus Dur memiliki warisan nilai luhur yang berbeda namun saling melengkapi bagi perjalanan bangsa.
“Dari Presiden Abdurrahman Wahid kita belajar tentang simbol pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat. Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman Indonesia," tuturnya.
Sementara dari Bung Karno, lanjut Febri, bangsa ini bisa menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.
"Sedangkan dari Presiden Soeharto, kita belajar tentang pentingnya stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” urai Febri.
Terakhir, lewat ziarah ke Taman Makam Pahlawan, Febri melihat Kapolri ingin mengirimkan pesan kuat tentang penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh pejuang kemerdekaan tanpa terkecuali.
Jenderal Listyo Sigit melakukan ziarah ke sejumlah makam mantan Presiden dan taman makam pahlawan pada Sabtu, 20 Juni 2026. Kapolri menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari perjalanan batin yang mendalam untuk menggali dan meresapi kembali teladan kepemimpinan dari para pendahulu yang telah berjasa membangun NKRI.
BERITA TERKAIT: