Begitu tegas pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina A. Chairul Umam dalam merespon perang antara Rusia dan Ukraina, Minggu (27/2).
“Jangan sampai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menjadi ajang medan pertempuran dan adu pelanduk di antara dua kekuatan besar di Kawasan,†tegas Chairul Umam.
Menurutnya, perlu ada komitmen semua negara di kawasan, untuk menghadirkan kerja-kerja diplomasi dan komunikasi politik yang jujur, transparan, dan akuntabel.
Begitupun proses diplomasi dan komunikasi politik publik harus benar-benar diletakkan dalam koritor relasi bilateral maupun multilateral yang kontruktif dan tidak bias kepentingan.
Selain itu, kata Chairul Umam, upaya penguatan terhadap sistem demokrasi yang menghadirkan model
checking and balancing benar-benar harus terus dijalankan secara simultan, agar output kepemimpinan politik tidak dibelokkan oleh ego kekuasaan.
“Di sinilah, teori perdamaian demokrasi (
democratic peace theory) yang meyakini bahwa perdamaian kawasan akan lebih mudah dicapai ketika masing-masing negara menjalankan sistem demokrasi yang sehat dan transparan, akan kembali menemukan justifikasi dan relevansinya dalam konteks teori maupun praktik hubungan internasional,†tutupnya.