Oleh karenanya bila berpasangan dengan Ganjar Pranowo, hasil surveinya diprediksi akan melejit mengungguli pasangan siapapun yang akan maju pada Pilpres 2024.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Bambang Istianto, melalui keterangan tertulisnya kepada
Kantor Berita RMOLJabar, Selasa (23/11).
Bambang mengatakan, pertarungan capres di 2024 dinilai akan seru dan dinamis dengan membandingkan keunggulan masing masing paslon tersebut. Misalnya Airlangga Hartarto yang kapasitas kepemimpinan sudah teruji ketika menghadapi gejolak di partainya yang diselesaikan dengan elegan, kondusif, dan demokratis.
“Hal ini yang membedakan dengan Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra. Tantangan yang dihadapi sosok yang saat ini menjabat Menhan relatif kecil karena dalam manajemen partai bergaya komando dan sentralistik dan mencerminkan kurang demokratis,†paparnya.
Sedangkan Anies Baswedan, meski telah memiliki sejarah di birokrasi pemerintahan tapi dinilai minim pengalaman memimpin sebuah organisasi politik yang tensi konfliknya sangat tinggi. Artinya, dalam manajemen konflik, Anies belum teruji seperti Airlangga.
“Kita membandingkan para pendamping calon presiden, misalnya Puan Maharani. Meskipun berpengalaman menduduki posisi strategis seperti pernah menjadi Menteri Koordinator, Ketua DPR, dan wakil ketua partai, politikus PDIP itu belum menunjukkan prestasi yang menonjol. Selain itu sosok Puan cenderung terbiasa nyaman di menara gading dan tidak dekat dengan rakyat kecil,†ungkapnya.
Sedangkan capres lain seperti AHY yang digadang-gadang sebagai calon pendamping Anies Baswedan memang dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang cerdas dan sebagai ketua partai. Tapi AHY masih minim pengalaman di lapangan baik di birokrasi dan politik, sehingga sering disebut sebagai pemimpin yang prematur.
“Adapun Ganjar Pranowo berpengalaman dalam birokrasi sebagai gubernur dan lapangan politik praktis sebagai pengurus partai dan anggota DPR, meskipun kemugkinan akan kehilangan rumah partai bernaungnya, namun sangat tepat bila Ganjar mendampingi Airlangga,†kata dia.
Sedangkan Airlangga yang saat ini menakhodai partai besar selain sebagai Menko Perekonomian, berpotensi mampu melakukan perubahan fundamental terhadap kondisi Ipoleksosbud Hankam yang saat ini sedang mengalami distorsi cukup mengkhawatirkan.
Di samping kepiwaiannya mengendalikan kekuatan politik besar yakni Partai Golkar yang masih solid dan kondusif, pengalaman Airlangga di birokrasi pemerintahan dapat membawa Indonesia keluar dari krisis dengan soft landing tanpa kegaduhan.
Duet Airlangga–Ganjar pun dinilai memiliki potensi yang strategis. Sebab keduanya memiliki basis massa yang kuat dari dua partai besar tempat mereka saat ini bernaung.
Meskipun posisi Ganjar sedang di ujung tanduk kemungkinan dipersona non gatra, tetapi elektabilitasnya masih moncer di posisi tiga besar antara Prabowo, Ganjar, dan Anies.
Jika kebijakan presidential threshold tetap 20%, menurut Bambang, diprediksi yang akan berlaga adalah tiga pasang calon. Yaitu Prabowo-Puan, Ailangga-Ganjar, dan Anies-AHY.
Komposisi tiga pasang calon tersebut sangat kompetitif karena ketiganya memiliki keunggulan masing masing, sehingga konstelasi politik dan pertarungannya akan seru dan dinamis.
Namun demikian pasangan Airlangga dinilai akan berpeluang menggandeng kembali kawan lamanya yang berlabuh di partai lain dan Ganjar masih berpengaruh besar terhadap massa Banteng, maka kans menang pada Pilpres yang akan datang sangat besar.
BERITA TERKAIT: