Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Jabar, Daddy Rohanady mengatakan, teguran ketum terhadap kadernya adalah hal biasa. Apalagi Partai Gerindra kulturnya sangat Prabowo sentris.
"Kritiknya biasa, menurut saya lumrah dilakukan. Teguran juga lumrah juga dilakukan. Jadi bukan menjadi sesuatu yang tabu," ungkap Daddy saat dihubungi
Kantor Berita RMOLJabar, Selasa (16/11).
Di samping itu, DPP di semua parpol memiliki hak veto terkait sikap kadernya. Kemudian, kritikan yang disampaikan Fadli Zon walaupun menggunakan bahasa yang halus maupun sindiran tentu berkaitan dengan kebijakan partai mengenai sejauh mana para kader diperkenankan mengkritisi dan sebagainya.
"Dalam bahasa saya, senjata yang dipunyai mau diarahkan ke mana. Boleh tidak mengarahkan senjata yang saya miliki misalkan ke Pak Ridwan Kamil. Sama dengan posisi saya di Jabar," terangnya.
"Jadi saya secara kepartaian boleh tidak mengkritisi habis-habis kebijakan yang dilakukan oleh seorang Ridwan Kamil. Kira-kira begitu," lanjutnya.
Meski demikian, terdapat perbedaan antara daerah dengan pusat. Jika di pemerintah pusat, posisi Partai Gerindra jelas berada dalam pemerintahan. Sedangkan, posisi Partai Gerindra di Jabar tidak terlalu jelas, karena sejak awal tidak berkoalisi dengan Ridwan Kamil.
"Nah di Gerindra kalau teguran biasa saja. Cuma apakah perlu yang begitu keras, menurut saya sesungguhnya tergurannya tidak keras-keras amat," tandasnya.
BERITA TERKAIT: