Perry mengaku, telah melakukan koordinasi secara maraton dengan Menteri Keuangan, OJK dan LPS untuk menyiapkan skenario dari moderat, skenario berat hingga skenario terberat.
“Pada minggu terakhir Maret setelah wabah di global meroket, di Indonesia sendiri sejak 10 maret jumlah kasus positif naik terus. Pada minggu keempat sudah ada pergerakan manusia dari Jakarta ke daerah, sehingga muncul di situ adalah risiko pandemi yang lebih luas,†ujar Perry saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4).
Koordinasi intens antar Gubernur BI, Menkeu, LPS dan OJK telah dilakukan untuk mengambil langkah antisipasi dampak ekonomi khususnya pada UMKM dan sektor keuangan lainnya.
Perry mengibaratkan wabah Covid-19 ini seperti banjir bah yang dialami Nabi Nuh, hingga harus menyiapkan sebuah kapal besar untuk menyelamatkan perekonomian nasional.
“Kalau kita ukur waktu itu, skenario moderat itu kalau banjirnya sampai atap rumah. Kita juga ukur kalau banjirnya sampai gedung, itu skenario berat. Sampai kalau wabahnya kemudian (ibarat banjir) sampai gunung, itu sangat berat yang tempo hari kita diskusikan ini,†ujarnya.
“Skenario beratnya seperti apa? itu dari informasi satgas, Menkeu sebagai wakil atau apa di satgas, info dari satgas didiskusikan melalui Bu Ani (Sri Mulyani), karena beliau juga di satgas covid,†tambahnya.
Pemerintah bersama Bank Indonesia mengukur tiga skenario tersebut yakni skenario moderat, skenario berat dan skenario sangat berat berdasarkan durasi penyebaran virus corona.
“Bagaimana skenario berat kalau durasinya sampai Juni. Sangat beratnya durasinya sampai September. Berdasarkan skenario itu, makanya kemudian presiden pencegahan wabah kemudian mengeluarkan PSBB, itu mencegah aspek kesehatan,†katanya.
“Nah untuk mengatasi aspek kesehatan kan butuh dana, perlu menyediakan rumah sakit, APD, rapid test, padahal suplai di dunia susah. Bagaimana dukungan terhadap dokter-dokternya, itukan perlu dana untuk anggaran kesehatan,†tandasnya.
BERITA TERKAIT: