"Pak Kapolri harus membaca sejarah dengan benar," tulis Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah ini di akun Facebook, Rabu (31/1). IGDA adalah organisasi otonom ormas Al Jam'iyatul Washliyah.
Jelas Dedi, Kapolri yang menyebutkan hanya NU dan Muhammadiyah sebagai pendiri bangsa sementara yang lainnya malah merontokkan, adalah kesesatan argumentasi dan mengabaikan peran ormas Islam lain yang turut berjuang memerdekakan dan membangun bangsa.
"Bukan karena saya Washliyah, tapi kebenaran sejarah harus diungkap dengan komprehensif, jangan menomorsatukan salah satu dan menomorsekiankan yang lain," ujarnya mengingatkan.
Pengurus KNPI ini menambahkan pidato Kapolri sangat membenturkan dan bernilai provokatif.
"Kok saya merasa sepertinya Pak Kapolri ingin membenturkan ormas-ormas Islam dengan membangun kasta ormas. Saya harap Kapolri harus lebih menguasai informasi dulu baru menyampaikannya ke publik," demikian Dedi.
Pernyataan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian yang viral baru-baru ini merupakan penggalan sambutan dalam sebuah acara penandatanganan MoU dengan PBNU pada 2016 lalu.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto mengatakan, Kapolri akan melakukan pertemuan dengan ormas-ormas Islam dalam rangka silaturahmi. Pertemuan nanti diselenggarakan menyusul polemik video pidato Kapolri yang dinilai menyinggung sebagian umat Islam.
[rus]
BERITA TERKAIT: