Fakta itu diungkapkan Menkopolhukam Wiranto saat menghadiri Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP)
Outlook 2017 Proyeksi dan Refleksi di Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat. Saat berpidato, sembari bergurau, Wiranto berbicara soal payung dan jaket yang dipakai Jokowi yang akhirnya mencuri perhatian publik.
Wiranto bercerita pengalamannya mendampingi Jokowi menemui massa Aksi Bela Islam III pada 2 Desember lalu. "Kemarin saya mendampingi Pak Jokowi datang ke Jakarta dalam peristiwa 2 Desember, itu untuk mendoakan Indonesia agar selamat," kata Wiranto mengawali ceritanya.
Kala itu, Jokowi menggunakan payung lantaran hujan mengguyur kawasan Istana dan sekitarnya. Namun, publik tidak fokus pada aksi Jokowi yang akhirnya datang menemui massa, melainkan warna payung yang digunakan Jokowi saat itu. Malahan, lanjut bekas Panglima ABRI ini, publik heboh mencari jenis payung yang dipakai Jokowi, yang akhirnya menjadi trending topic di media sosial. "Waktu itu hujan, Presiden pakai payung warna biru, lalu orang berbondong-bondong cari payung warna biru biar sama kayak Presiden," ujar Wiranto heran.
Wiranto membeberkan, sebenarnya payung itu payung yang sudah ada di Istana Negara sejak pemerintahan Presiden Ke-6, SBY. Jokowi memakai payung itu karena hanya itu yang tersisa di Istana. "Buru-buru cari payung adanya warna biru, bukan karena cari warna biru, begitu. Ini bekas payung Presiden sebelumnya, Pak SBY," ucap Wiranto. Langsung saja, hadirin yang datang seperti Ketua KPU Juri Ardiantoro, Ketua Komisi II DPR Rambe Kamarul Zaman, Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie dan Ketua Bawaslu Muhammad serta hadirin lainnya tertawa.
Tak cuma soal payung, Wiranto juga kagum kepada Jokowi yang berhasil menjadi brand fashion, Zara yang kehabisan stock Bomber Jacket warna hijau navy yang dipakai Jokowi. Sampai sold out di sejumlah outlet Zara di Indonesia. Malahan, aku Wiranto, banyak temannya yang ingin Jaket Jokowi sampai-sampai memesannya dari Malaysia. "Itu sebelumnya, peristiwa 4 November 2016, Presiden pakai jaket Zara, habis itu ya habis semua persediaan. Sampai teman beli di Malaysia," ujar Wiranto.
Dari cerita itulah, Wiranto menarik kesimpulan, Jokowi adalah pemimpin panutan dan figur yang benar-benar diinginkan rakyat. "Artinya, pemimpin betul-betul orang yang diinginkan. Asal punya Presiden, diikuti," ujarnya.
Di linimasa, netizen menanggapi beragam. Di kolom komentar link berita terkait, sejumlah netizen menyindir soal payung biru Jokowi yang bekas SBY. "Kok yang jadi panutan jaket sama payung? Pak Wiranto seharusnya bisa memilah apa yang menjadi panutan, apa yang cuma sekadar latah. Apakah memang negara ini sudah krisis panutan, sehingga yang jadi panutan jaket dan payung?" tulis Pakdhekuwi, diamini Dawilkasut. "Pak Wir betul, pemimpin jadi panutan ya yang memakmurkan rakyat dan bukannya memakmurkan bangsa asing," sebutnya.
Gojali Romli menilai bukan soal kepemimpinannya, viralnya payung dan jaket karena diramaikan media sosial. "Halah..itu kan kelakuan Kaesang. Apapun di upload, payung kek panco kek, kolam istana bogor kek. Sebenarnya gak ada yang istimewa. Cuma
cyber forces aja yang bikin gaduh," tulisnya. Namun, pembaca Balata Simalungun tak terima. "Bisa disimpulkan, bukan karena payungnya, melainkan karena orang yang memakainya," katanya.
Akun @kamilbray menilai Presiden sekarang sederhana. "Nggak beli yang baru pak? Seperti yang dulu selalu harus baru," tulis dia, diamini Alwi Pratomo. "Sangat sederhana sekali pak. Nerima apa adanya titik," katanya. Akun @dcliver menimpali. "
Good. Gak harus semua baru. Payung 'bekas' sebelumnya juga gak papa," katanya.
Di Twitter, akun @deddysitorus menilai Wiranto sedang menyindir pelan. "Pak Wiranto eksplisit sekali nyindirnya, bahwa presiden sebelumnya bukan panutan, bahkan ketika pake payung yang sama," kicaunya, disambut @wito_karyono. "Ternyata payung biru yang ngetop dibawa Jokowi payungnya SBY. Begitulah kalau warna partai dibawa ke istana. Apes juga," kicaunya. ***
BERITA TERKAIT: